Membangun Budaya Literasi untuk Masa Depan Daerah
Oleh: Rusmin Sopian
“Ini untuk investasi masa depan daerah,” ungkap seorang teman saat mendengar kegiatan lomba bertutur tingkat SD/MI yang dihelat Dinas Perpustakaan dan Kearsipan bersama Pengurus Daerah Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca ( GPMB) Kabupaten Bangka Selatan belum lama ini.
Masih menurut teman tadi, mestinya kegiatan sekasta tinggi bermuatan edukasi ini harus jadi ikon daerah sebagai salah satu sarana untuk meningkatkan daya saing daerah di panggung nasional.
Narasi heroik diatas terkadang tidak koheren dengan kondisi di lapangan. Masih ada yang mengasumsi kegiatan itu hanya sekadar rutinitas semata. Bahkan terkadang para petinggi daerah absen dari kegiatan ini.
Padahal lomba, sayembara yang bermuatan budaya bangsa dan budaya daerah sangat penting untuk menambah nutrisi jiwa para pewaris negeri ini.
Entah apa jadinya bila para generasi penerus lebih memahami kebudayaan barat daripada kebudayaan bangsa. Dan entah apa jadinya bila para pewaris negeri lebih tahu pahlawan dari luar negeri dibandingkan dengan pahlawan bangsa sendiri. Dan entah apa jadinya bila superhero dari luar sana mereka jadikan panutan.
Kecerdasan dan pengetahuan masyarakat menentukan kualitas suatu bangsa, sedangkan hal tersebut dihasilkan oleh seberapa ilmu pengetahuan yang didapat, dan ilmu pengetahuan itu di dapat dari informasi yang diperoleh baik dari lisan maupun tulisan.
Bagaimana kualitas suatu bangsa akan baik jika kecerdasan masyarakatnya tidak terbentuk, pengetahuan dan wawasan yang diterima berasal dari informasi bohong (hoaks), hasil dari kemajuan teknologi informasi sekarang ini tanpa kemampuan menyaring karena rendahnya literasi masyarakat di negara tersebut.
Sejatinya dukungan politik dari pemerintah ( Pemda) dan DPR ( DPRD) dibutuhkan untuk mendukung budaya literasi. Hal itu penting dan menjadi perhatian serius, karena budaya literasi berkaitan dengan masa depan bangsa.
Selama ini apa yang dilakukan oleh pemerintah masih bersifat temporer dan bersifat seremoni.
Kualitas bangsa Indonesia akan sangat dipengaruhi oleh tinggi rendahnya minat baca masyarakat, sebab dengan rendahnya minat baca, kita akan tertinggal dalam mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan informasi di dunia.
Perlu bagi kita untuk merubah cara berpikir (mindset) masyarakat bahwa membaca bukan sekadar pekerjaan iseng untuk menghabiskan waktu (to kill time), tetapi suatu kebiasaan dalam mengisi waktu (to full time) dengan sengaja.
