Farida Binti Romadi
Karya: Rusmin Sopian
Baturusa 1964, Matahari mulai menaiki langit. Di kejauhan terlihat, seorang perempuan berambut sebahu bergegas. Langkah kakinya terus melangkah melewati jalanan sempit. Tampaknya dia sedang berburu waktu. Menyiratkan ingin segera lekas tiba di rumah.
Ada sesuatu yang membuat langkah perempuan berkulit putih itu ingin bersegera tiba di rumahnya. Ada amanah mulia untuk disampaikannya kepada kedua orang tuanya.
Rimbunnya pepohonan yang menghiasi jalanan kampung yang damai itu, menjadi kanopi bagi tubuh semampai nya. Semesta melindunginya dari ganasnya cahaya matahari yang berada di atas kepala.
Suara azan Zuhur yang religius menyambut kedatangannya di rumahnya yang tidak jauh dari masjid. Berpapasan dengan orang-orang yang bergegas menuju ke masjid. Bersujud kepada Allah Swt, Sang Maha Pencipta.
Perempuan muda yang bernama Farida itu ingin segera menyampaikan kabar untuk keluarga besarnya yang didapatkannya dari pak camat dan istrinya tadi pagi.
“Kami ingin melamar mu untuk anak kami. Dia sangat mencintaimu,” ungkap pak camat saat dirinya berada di ruang makan keluarga itu.
“Iya. Nanti kami akan datang ke rumah mu untuk menyampaikan keinginan kami ini kepada keluarga mu. Tolong sampaikan kepada orang tuamu rencana kedatangan kami,” sambung istri pak camat.
Farida terdiam. Tidak ada suara yang keluar dari mulutnya. Tercekat di kerongkongannya. Semilir angin menerpa lembut paras cantiknya.
Bagi Farida, keluarga pak camat bukanlah sebuah keluarga yang asing bagi dirinya.
Setidaknya dalam waktu setahun ini, semenjak pak camat menjadi kepala kecamatan, dirinya sudah terbiasa bergaul dengan keluarga besar pak camat. Maklum dirinya saat itu tercatat sebagai salah satu pegawai honorer di kantor kecamatan itu.
Dirinya pun juga sudah dianggap pak camat sebagai keluarga. Istri pak camat selalu mengajaknya bila ada kegiatan di rumah dinas camat.
Tak heran bila dirinya amat familiar dengan keluarga besar pak camat, termasuk dengan anak-anak petinggi Kecamatan itu.
Semua anak pak camat sangat dekat dengan dirinya. Bahkan terkadang, anak pak camat yang masih kecil, tidur dengan dirinya, saat istri pak camat mencari rezeki dengan menjadi juru masak di rumah warga yang mengadakan acara besar seperti pernikahan.
Demikian pula, ketika pak camat dan istrinya keluar kota, maka kembang kampung itu dimintai bantuan oleh istri pak camat untuk mengurusi anak-anak petinggi kecamatan itu. Terutama soal makan anak-anak petinggi Kecamatan itu. Pak camat dan istrinya sangat percaya dengan ketelatenan perempuan anak pembuat gula aren itu.
Anak lelaki tertua pak camat yang masih bersekolah menengah atas di kota madya, saban sore selalu berada di rumahnya kendati dirinya tidak ada di rumah. Maklumlah, rumah dinas camat tidak jauh dari tempat tinggalnya. Hanya dalam hitungan menit dengan berjalan kaki.
Anak sulung pak camat itu, usai pulang sekolah, biasanya langsung ke rumahnya. Dan meninggalkan rumahnya saat matahari mulai menuruni langit. Tanpa kata. Tanpa narasi. Tanpa meninggalkan diksi indah bak penyair. Hanya berdiam diri di teras rumahnya. Terkadang ikut melihat pembuatan gula aren yang dilakoni bapak Farida sebagai sumber kehidupan keluarga itu.
Farida adalah wanita idaman para lelaki di kampungnya. Kecantikannya memikat hati para lelaki dari beragam kalangan. Ada yang berprofesi sebagai birokrat. Ada yang berkerja sebagai karyawan perusahaan pertambangan. Ada yang bertani. Semuanya berharap bisa menjadikan Farida sebagai permaisuri mereka. Ibu dari anak-anak mereka.
Selain dikaruniai wajah yang cantik, keluwesan bergaul Farida menjadi daya tarik bagi para kaum Adam di kampungnya.
Puteri dari pembuat gula aren itu dikenal gampang bergaul. Tidak heran banyak kaum Adam yang salah mengira. Salah memahami. Bahkan banyak yang salah penafsiran. Tak heran pula bila istri pak camat amat senang dengan honorer di kantor kecamatan itu yang amat cekatan dalam bekerja itu.
Sebagai bunga kampung, kemolekan yang dimilikinya membuat para lelaki jatuh hati. Tidak terkecuali Sopian, anak pak camat.
