Partai Pengemis Nusantara
Oleh: Yan Megawandi
Saya baru saja tertegun cukup lama setelah menemukan podcast Dedy Corbuzier beberapa minggu lalu tentang seorang anak perempuan yang terpaksa berpakaian seperti laki-laki agar bisa bekerja sebagai kuli bangunan. Ibunya telah meninggal karena kanker.
Ayahnya terpaksa bekerja di daerah lain. Ia hidup hanya berdua bersama adik lelakinya. Sehari-hari mereka berdua terpaksa tidur di tanah kuburan karena tak punya uang buat kontrak rumah. Ia terpaksa putus sekolah. Begitu pula adiknya.
Suatu ketika sang adik berhasil menjadi juara dua lomba panjat tebing yang entah bagaimana bisa diikutinya. Karena tak sekolah, adiknya jadi perhatian. Kemudian sang adik disekolahkan pemerintah setempat. Sampai kemudian viral berita tentang keberadaan ia dan adiknya yang tidur di kuburan dan menjadi kuli bangunan.
Namanya Sopiah. Tinggal di Indramayu. Usianya 23 tahun. Salah satu yang jadi pegangannya dalam menjalani hidup ialah pesan ibunya sebelum meninggal. “Jangan pernah minta-minta selama kamu masih kuat”. Pesan itu dipegangnya teguh. Ia tak mau minta-minta walaupun makanan sudah tak ada. Ia dan adiknya sempat tak makan selama dua hari, tapi tetap bertahan dan tak mau meminta-minta.
Sepanjang menonton acara podcast itu perasaan jadi tak karuan. Sedih, kasihan, melihat kondisi mereka berdua. Tapi juga kesal karena kalau ingat bahwa masih semakin banyak orang yang tak punya malu dan nurani. Mengambil hak orang lain. Korupsi.
Ada menteri yang sekarang sedang di sidang di pengadilan karena kelakuannya yang menganggap uang negara seperti uang nenek moyangnya. Atau masih banyak pejabat yang dengan mudahnya memindahkan aset negara menjadi asetnya. Uang negara menjadi uangnya pula. Dipakai untuk membeli mobil anaknya atau membiayai urusan kecantikan anak istrinya.
Atau ada lagi sekelompok peminta-minta yang tertangkap layar kamera. Mereka ini berombongan pulang dengan mengendarai mobil yang diparkir di pinggir jalan. Ternyata pengemis sudah naik kelas di zaman sekarang. Mereka pergi dan pulang mengemis dengan menggunakan kendaraan mereka sendiri. Bahkan di beberapa daerah di Jawa, terbukti para pengemis di berbagai kota tersebut memiliki rumah yang terkesan cukup mentereng dan mewah.
Padahal selama ini sebagian besar kita beranggapan bahwa para pegemis itu adalah orang-orang yang kurang beruntung dan perlu dibantu oleh sesama. Tapi nyatanya kebaikan hati orang banyak dapat pula dimanfaatkan untuk menumpuk kekayaan dan harta pribadi. Caranya menjadi pengemis dan peminta-minta. Mungkin mental seperti inilah yang sekarang sedang menggerogoti kita sebagai bangsa.
Cerita tentang Sopiah adalah penggalan kecil dari persoalan yang mungkin dihadapi kelompok paling tidak beruntung di negeri ini: orang miskin. Orang yang selalu disebut-sebut para calon pemimpin baik di level pusat maupun daerah. Mereka selalu menjadi pemanis kata-kata para calon pemimpin yang berpidato menarik perhatian para pemilih.
Perhatikanlah, kaum yang tak berdaya ini akan menjadi seolah-olah perhatian calon pemimpin itu. Nama mereka akan disebut-sebut bakal memperoleh berbagai kemudahan, bantuan, dan fasilitas kelak kalau mereka menang dalam pilkada.
Tapi sejarah bisa membuktikan bahwa keberpihakan yang dijanjikan itu hanya fatamorgana. Kaum miskin akan selalu menjadi objek kampanye para calon kepala daerah. Setelah menang maka para pemodal dan tim sukses berkepentingan lah yang pertama menikmati fasilitas uang milik rakyat yang dikelola atas nama pembangunan.
Itulah jalan pintas yang cukup mudah memperoleh fasilitas publik. Kita tak sulit membayangkan kira-kira akan seperti apa wujud masyarakat kita ke depan dengan tontonan dan contoh yang diperlihatkan selama ini oleh para pemimpin publik. Lihatlah kemewahan fasilitas yang dinikmati. Kendaraan terbaik, kediaman yang mirip istana, pelayanan yang berkelimpahan, pakaian yang glamor dan mewah, serta makanan kelas bintang lima.
Situasinya juga dibuat mirip perlombaan. Dipertunjukan dengan gamblang dan penuh kebanggaan. Bila tidak percaya lihatlah nanti setelah pilkada selesai. Perayaan kemenangan dimulai. Anggaran pun mulai dibelai-belai. Agar semua proses dapat berjalan lancar maka rombongan pemegang palu persetujuan anggaran juga perlu didekati. Difasilitasi semua keperluan dan kebutuhannya.
Pada suatu masa misalnya, pernah terjadi kebutuhan-kebutuhan para legislator di suatu negeri dibarter dengan persetujuan anggaran dalam bentuk utang. Utangnya mesti dibayar oleh anggaran daerah beberapa tahun ke depan. Memang tak ada larangan kalau mau utang buat membeli dan membuat sesuatu.
