Oleh: Dwikki Ogi Dhaswara

Gangan Kuneng adalah kuliner tradisional dari kepulauan Pongok dan Lepar. Dalam bahasa lokal gangan artinya lempah, dan kuneng artinya kuning.

Gangan Kuneng dari Pongok dan Lepar, yang juga dikenal dengan sebutan lempah kuning pesisir, lempah kuning Pungok, atau lempah kuning Lepar, memiliki keunikan yang tercermin dalam berbagai panggilannya.

Panggilan ini, menggambarkan keterkaitan hidangan tersebut dengan wilayah pesisir serta identitas kultural masyarakat setempat. Penggunaan istilah lokal seperti gangan kuneng atau varian nama lainnya, menunjukkan adanya diversitas dalam praktik kuliner yang mencerminkan kondisi geografis dan budaya masyarakat Pongok dan Lepar.

Setiap istilah tersebut, memperlihatkan keterikatan budaya dengan masyarakat pesisir di Kabupaten Bangka Selatan.

Baca Juga  Serunya Touring Grup Natak ke Basel, Santap Durian Desa Nangka hingga Lempah Kuning di Batu Betumpang

Gangan kuneng, khususnya dari Pongok dan Lepar di Kabupaten Bangka Selatan, memiliki identitas tersendiri yang membedakannya dari lempah kuning yang lebih umum dikenal di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung atau di Kabupaten Belitong dikenal dengan nama Gangan, tidak ada penambahan kata Kuneng dibelakangnya.

Walaupun secara umum lempah kuning telah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) provinsi, penting untuk menegaskan bahwa Gangan Kuneng di Bangka Selatan memiliki karakteristik unik yang layak mendapatkan pengakuan tersendiri.

Secara nilai, Gangan Kuneng tidak hanya sekadar hidangan. Kuliner khas tersebut mengandung kearifan lokal,  keterhubungan dengan alam, kesatuan keluarga dan masyarakat, tradisi dan identitas budaya, keragaman dan kreativitas, kesehatan dan kesejahteraan yang mencerminkan identitas masyarakat Pongok dan Lepar.

Baca Juga  Kawin Massal, Tradisi Unik yang Harus Dijaga Kelestariannya

Makna yang terkandung di dalamnya berkaitan erat dengan simbol kebersamaan dan kesatuan, penghormatan terhadap alam dan tradisi, identitas budaya lokal, warisan budaya yang hidup di masyarakat setempat.

Sedangkan fungsi dari gangan kuneng juga melampaui perannya sebagai makanan sehari-hari. Gangan Kuneng seringkali menjadi bagian penting dari perayaan budaya sebagai hidangan tradisional, simbol identitas budaya, hingga aspek kesehatan yang diyakini masyarakat setempat.

Gangan Kuneng sudah diwariskan secara turun temurun di Kepulauan Pongok dan Lepar, keberadaannya lebih dari seratus tahun yang lalu, terhitung dari pewarisan dan pengetahuan orang-orang tua serta maestronya di Kepulauan Pongok dan Lepar.

Menurut mereka, dulunya Gangan Kuneng dijadikan sebagai hidangan khusus untuk nelayan pulang ke darat setelah mencari ikan. Kegiatan ini biasa disebut oleh masyarakat lokal yakni Nundak.

Baca Juga  Kopi Literasi Vs Kopi Wakil Rakyat

Setelah para nelayan pulang mencari ikan atau nundak dari laut, mereka membawa ikan hasil tangkapannya untuk dimasak. Biasanya para istri nelayan menunggu dipinggiran pantai untuk menyambut para nelayan sampai ke darat. Aktifitas memasaknya juga langsung dilakukan dipinggiran pantai.