Penuh dengan rasa bahagia, kekeluargaan dan kebersamaan untuk mereka menikmati masakan khas yang dikenal dengan rasa asam pedas dan kuah kentalnya. Masakan ini juga mereka percayai seperti obat atau jamu yang dapat membangkitkan semangat dan melepas lelah setelah menangkap ikan dilaut.

Selain itu, Gangan Kuneng juga selalu dijadikan sebagai menu wajib atau hidangan tradisional khusus, ketika ada pelaksanaan adat pernikahan pongok yaitu Begawai.

Sangat jelas perbedaannya dengan lempah kuning pada umumnya, dan Gangan Belitong yang berada diluar dari Bangka Selatan.

Oleh karena itu, penting untuk menggunakan penamaan lokal, yaitu Gangan Kuneng (Lempang Kuning Pesisir). Hal ini bukan hanya untuk memperjelas perbedaan dengan lempah kuning secara umum, tetapi juga untuk menghormati dan menjaga kekayaan budaya Bangka Selatan yang unik.

Baca Juga  Tiga Produk Bangka Selatan kembali Terima Sertifikat Kekayaan Intelektual Komunal

Dengan demikian, Gangan Kuneng dari Bangka Selatan dapat diakui secara khusus sebagai bagian dari Warisan Budaya Takbenda yang berbeda dari lempah kuning lainnya.

Perbedaan Gangan Kuneng di Bangka Selatan dengan lempah kuning dari daerah lain, baik dari sisi budaya maupun rasa, dapat menjadi hasil dari variasi dalam bahan-bahan yang digunakan, teknik memasak, dan preferensi lokal.

Berikut adalah beberapa perbedaan yang mungkin ditemui:
a) Penamaan Lokal: Gangan Kuneng merupakan penamaan lokal yang dikenal di daerah Kepulauan Pongok dan Kepulauan Lepar, sedangkan di daerah lain penamaan ini sering disebut dengan Lempah Kuning.

b) Nilai, Makna dan Fungsi: Gangan Kuneng memiliki Nilai Budaya, Makna Budaya dan Fungsinya yang berbeda dengan daerah lain. Nilai makna dan fungsi di Gangan Kuneng sudah menjadi tradisi kepercayaan dan kebiasaan serta budaya di masyarakat Bangka Selatan.

Baca Juga  Mutu Pendidikan Bukan Sekadar Angka: Refleksi Seorang Kepala Sekolah

c) Rasa dan Bumbu: Gangan Kuneng Bangka Selatan memiliki cita rasa khas yang didominasi oleh rasa asam pedas, ditambah dengan rempah-rempah dan bumbu tradisional seperti belacan. Di daerah lain, seperti lempah kuning di Bangka dan Gangan di Belitung memiliki rasa dan kekentalan yang berbeda karena penggunaan cabai rawit atau rempah-rempah lain berbeda takaran dan penggunaannya.

d) Tradisi dan Budaya Lokal: Setiap daerah memiliki tradisi dan budaya lokal yang memengaruhi cara pembuatan dan penyajian Gangan Kuneng. Misalnya, di Bangka Selatan, Gangan Kuneng sering kali disajikan dalam acara keluarga besar atau perayaan budaya, sementara di daerah lain mungkin memiliki tradisi penyajian yang berbeda sesuai dengan budaya lokal mereka.

Baca Juga  Logo Kementerian Kebudayaan RI Mirip Jambul Nanas?

Meskipun ada perbedaan dalam cara pembuatan dan penyajian lempah kuning antar daerah, semua versi lempah kuning memiliki nilai budaya yang penting sebagai bagian dari warisan kuliner Indonesia.

Dwikki Ogi Dhaswara, Pamong Budaya Bangka Selatan