Karya: Putri Simba

Dinda adalah seorang anak pemulung. Dia merupakan anak satu-satunya. Kedua orang tuanya telah lama meninggal, ketika usianya 15 tahun, akibat kecelakaan maut. Akhirnya Dinda hanya tinggal sebatang kara dengan kondisi serba kekurangan. Dia tinggal di kota besar dengan rumah pondok ditebengi kayu papan, beratap terpal, karena dahulu rumahnya sempet dilahap si jago merah.

Untuk bertahan hidup demi sesuap nasi, Dinda selalu memulung setiap pulang sekolah. Dia mulung hingga larut malam. Penghasilan yang didapat tiap hari juga tak menentu, kadang mendapat 50 ribu dan terkadang mendapat 30 ribu. Walaupun begitu, Dinda takmalu dengan pekerjaannya, yang penting halal

Meski dalam keterbatasan ekonomi yang membuatnya terus selalu dihina oleh teman-teman karena berbeda dari yang lainya, Dinda tidak pernah malu. Bahkan dari hinaan itu selalu dijadikan motivasi bagi dirinya dengan penuh semangat bersekolah, sehingga menjadikan dirinya sebagai anak berprestasi disekolahnya. Dinda selalu mendapatkan nilai tertinggi.

Baca Juga  Langkah

Suatu hari, sepulang sekolah dengan pakaian sekolah yang agak robek juga kusut kusam, Dinda pergi memulung hingga larut malam. Saat memulung hari itu, teman-teman yang melihatnya di jalanan semakin menertawakan dirinya.

“Eh, gays, liat tuh, anak miskin udah mulung aja!” ledek salah seorang teman Dinda.

“Hahaha, kasian banget, sih, nasibnya Dinda, kayak kami dong, serba punya. Huh, dasar miskin!” ledek teman-temannya kembali.

Tanpa bicara sepatah kata pun, dengan menghiraukan semua ledekan teman-temannya itu, Dinda terus memulung, berjalan menyusuri jalanan kota, meski sepanjang jalan, linangan air matanya menetes membasahi pipinya itu karena tak kuasa menahan segalanya.

Disaat itu pula Dinda selalu terus berkata, “Biarlah orang terus menghinaku, tetapi suatu saat nanti akan kubuktikan bahwa aku akan bisa sukses di masa depan dan aku akan bisa!” ucapnya dalam hati, setiap hinaan datang menerpa.

Baca Juga  Litotes sang Sutradara Mahligai Inang

Belum lama berucap, entah salah lihat, atau bagaimana, ada seorang wanita berjubah putih, cantik seperti bidadari menghampirinya sambil tersenyuman.

“Anakku, kemarilah! Nah, ini ibumu,” ucap wanita berjubah putih itu.

“Siapa kau? Tidak! Kau bukan ibuku, bukan!” jawab Dinda takpercaya bahwa itu adalah bayangan ibunya yang datang menghampirinya.

“Aku ibumu, Nak! Ibu tahu engkau sedang bersedih saat ini dan ibu juga tau bahwa engkau sering diledek teman-temanmu!” ucap sang wanita berjubah putih itu lagi.

“Betulkah kau ibuku?” tanya Dinda.

“Iya, Nak, aku ibumu! Ibumu yang telah melahirkanmu juga membesarkan mu!” jelas wanita berjubah putih itu lagi.

“Ibuuu!” ucap Dinda kemudian dengan cepat memeluk erat sang ibundanya itu. Mereka berada di jalanan kota besar.

Baca Juga  Cahaya Terang dalam Gelap

Di jalan itu pula Dinda duduk di pangkuan sang Ibu dengan menceritakan segalanya dengan penuh kesedihan dan tanpa sadar dia tertidur pulas, hingga pada masanya ada seorang pria tua membangunkan tidurnya itu.