Mesin dan Harapan
Karya: Ananda Aulia Adinendra
Di dunia yang sunyi, yang hanya disaksikan oleh sisa-sisa gedung dan jalan berkarat, bumi telah berubah menjadi kuburan besi dan beton yang tak lagi menyambut kehidupan. Matahari redup tertutup langit abu-abu, sementara angin yang bertiup hanya membawa serpihan-serpihan debu masa lalu. Di antara bayangan ini, hanya ada satu hal yang terlihat hidup—mesin, yang terus bertahan di dunia yang telah ditinggalkan oleh manusia.
Android prajurit bernama 2B berjalan di tengah reruntuhan kota ini dengan langkah tegap. Wajahnya datar, tanpa ekspresi yang mungkin bisa mengisyaratkan emosi, dan di balik kain hitam yang menutupi matanya, tersembunyi kilatan pemahaman akan takdirnya.
2B diciptakan hanya untuk satu tujuan: bertarung, membasmi mesin yang berkeliaran di bumi, dan mengembalikan planet ini bagi umat manusia yang telah mengungsi ke bulan sejak invasi alien. Namun, seiring langkahnya yang mantap, sesuatu di dalam dirinya mulai mempertanyakan apakah tugas ini benar-benar memiliki akhir.
Di sampingnya, seorang android lain, 9S menyusul dengan penuh rasa ingin tahu. Berbeda dari 2B yang penuh keteguhan dan sikap dingin, 9S membawa semangat dan kepolosan yang lebih mirip manusia—ia tidak hanya bertarung, tetapi juga mempertanyakan dunia di sekitarnya, tugas mereka, dan, terutama, alasan keberadaan mereka. Saat keduanya melintasi jalan-jalan sepi dan bangunan-bangunan runtuh, 9S sering kali melemparkan pertanyaan yang hanya dijawab oleh 2B dengan sunyi atau gerakan sederhana.
“Apa menurutmu manusia merindukan dunia ini, 2B?” tanya 9S suatu kali.
“Aku terus berpikir, mengapa mereka menciptakan kita? Kenapa kita ada di sini, bertempur di tempat yang sudah tak ada siapa pun lagi?”
2B hanya mengangkat bahu, tidak ingin terlibat dalam percakapan yang baginya tidak ada gunanya. Baginya, bertanya adalah sesuatu yang tidak diperlukan dalam tugas. Namun, seiring berjalannya waktu, meskipun ia sering merasa terganggu oleh pertanyaan-pertanyaan 9S, ada perasaan samar yang perlahan tumbuh di dalam dirinya. Seolah-olah, dalam hati yang mestinya tak memiliki perasaan, sesuatu mulai mengusik keteguhan yang selalu ia pegang.
Pencarian mereka membawa mereka pada sesuatu yang aneh di dunia yang sunyi ini. Mesin-mesin yang dulu hanya bertarung tanpa perasaan kini mulai meniru manusia. Beberapa mesin tertawa, sementara yang lain berbicara, seolah-olah ingin membentuk ikatan layaknya manusia.
Mereka bahkan mengembangkan hubungan yang terlihat seperti persahabatan atau cinta—sebuah emosi yang aneh untuk dilihat dalam bentuk logam dan kabel. Di suatu sudut kota, mereka bertemu dengan dua sosok mesin kembar, Adam dan Eve, yang tidak hanya memiliki bentuk seperti manusia tetapi juga perilaku yang sangat mirip.
