Karya: Sutiono, S.Pd. Kim., M.M.

Matahari makin condong ke arah barat, cahayanya mulai memudar di balik kanopi hutan yang lebat. Aroma humus dan kayu basah menguar dari tanah hutan yang lembab. Paejo, Jono, dan Agus terus melangkah tanpa arah yang jelas. Langkah-langkah mereka semakin berat seiring kelelahan yang mulai menguasai tubuh.

Suara gemerisik dedaunan terdengar di sekeliling, ditambah jeritan jangkrik yang semakin melengking. Di atas pohon, rombongan monyet melompat ke sana kemari, mengeluarkan suara seolah-olah memberi isyarat bahwa mereka telah tersesat. Situasi tersebut memberi kesan bahwa mereka semakin dalam terperangkap di rimba belantara. Hati mereka mulai gelisah dan dihinggapi rasa putus asa, terutama ketika senja mulai merangkak.

“Aku rasa kita sudah tersesat jauh, Paejo,” ucap Agus, napasnya terengah-engah.

Jono yang terlihat sangat kelelahan hanya bisa mengangguk lemah. Perdebatan mereka sebelumnya telah tergantikan oleh kelelahan dan ketakutan.

Paejo, yang berusaha keras tetap tegar sebagai kakak tertua, menatap langit yang semakin gelap. “Tetap semangat dan jangan menyerah. Yakinlah kita pasti menemukan jalan keluar. Ayo, kita lanjutkan perjalanan.”

Baca Juga  Si Kecit dan Pelangi Timah

Dengan langkah berat mereka mengayunkan kaki, melanjutkan perjalanan, berharap menemukan petunjuk yang mengarahkan ke jalan pulang. Di tengah suasana yang semakin senyap, mata Paejo menangkap sebuah bayangan di kejauhan. Sesosok gubuk tua tersembunyi di balik pepohonan rindang.

“Lihat itu! Ada gubuk!” seru Paejo, secercah semangat kembali muncul dalam dirinya.

Jono dan Agus menatap gubuk itu dengan penuh harap, mengira mungkin ada seseorang yang bisa membantu mereka. Mereka berlari kecil mendekati bangunan tersebut. Namun, wajah mereka segera diliputi kekecewaan. Gubuk itu tampak usang dengan kayu-kayu yang mulai lapuk dan pintu yang hampir roboh. Tak ada tanda-tanda kehidupan, hanya sebuah rumah tua yang terbengkalai.

“Tidak ada orang di sini…” Jono berkata dengan suara kecewa.

Agus menendang tanah dengan frustrasi dan meneteskan air mata. “Kita benar-benar tersesat!” Sambil memegang perut, ia menambahkan, “Bang Paejo, saya lapar. Apakah kita bisa pulang ke rumah?”

Namun, Paejo masih belum kehilangan harapan. “Gubuk ini pasti pernah ditempati seseorang. Dan kalau ada rumah di sini, artinya tidak jauh dari sini pasti ada pemukiman warga. Kita harus tetap semangat.”

Baca Juga  Serumpun Kenangan

Paejo mengajak adik-adiknya beristirahat sejenak di sekitar gubuk sebelum melanjutkan perjalanan. Meskipun rasa cemas masih melanda, mereka berusaha percaya pada kakak tertua mereka. Setelah mengumpulkan tenaga, mereka kembali melangkah, berharap Paejo benar.

Sementara itu di Desa Air Payak, matahari telah terbenam. Cahaya jingga keemasan menghiasi cakrawala di ufuk barat, diiringi suara jangkrik yang semakin melengking menyambut datangnya malam. Ani semakin cemas karena ketiga anaknya belum juga kembali dari hutan. Poniman akhirnya memutuskan untuk bertindak.

“Ani, biarlah aku saja yang mencari. Kamu tetap di rumah, berjaga-jaga kalau mereka pulang,” kata Poniman tegas.

“Tapi, aku ingin ikut! Bagaimana jika sesuatu yang buruk terjadi pada mereka?” Ani memohon, tak kuasa menahan kekhawatirannya sebagai seorang ibu.

Poniman menatap istrinya dengan penuh kasih, namun tetap kukuh. “Tidak, Ani. Kau harus tetap ada di sini. Tolong jangan panik, aku akan pergi bersama Anton dan Dani. Kami akan mencari ke desa sebelah, kemungkinan ada warga yang melihat mereka.”

Baca Juga  Idulfitri Datang Tanpa Ketukan Pintu

Tanpa menunggu lebih lama, Poniman bergegas menuju rumah Anton dan Dani, saudara kandungnya. Setelah menjelaskan situasi yang terjadi, mereka bertiga langsung bersiap. Membawa bekal, senter, dan parang di tangan, mereka memasuki hutan, berusaha mengikuti jejak anak-anak Poniman yang tadi pagi pergi mencari damar.

Di rumah, Ani duduk cemas dengan hati berdebar-debar, memanjatkan doa kepada Allah SWT agar anak-anak mereka baik-baik saja.

Waktu terus berlalu. Matahari telah tenggelam sepenuhnya, dan rembulan purnama kini bersinar terang menerangi alam semesta. Ketiga bersaudara itu melanjutkan perjalanan, dan ketika hampir seluruh harapan mereka sirna, Paejo tiba-tiba melihat sinar kecil dari kejauhan.

“Itu! Ada cahaya! Mungkin itu rumah warga!”

Mereka bergegas menuju arah sinar tersebut. Betapa leganya ketika mereka akhirnya melihat sebuah rumah sederhana yang terawat. Paejo segera mendekat dan mengetuk pintu dengan tangan gemetar, “Assalamu’alaikum.”