Si Kecit dan Pelangi Timah

Oleh: Putri Simba

Fajar baru saja menyising di ufuk timur, langit berwarna jingga lembut dan angin pagi bertiup pelan dari arah laut, aroma garam dan dingin menyejukkan dada. Di sebuah kampung kecit di pulau Bangka, hiduplah sepasang bocah kembar bernama Rian dan Rianor, usianya hampir menginjak sepuluh tahun. Pagi ini, di saat libur sekolah, mereka diajak ayahnya untuk ikut ke kulong timah Bangka.

“Rian dan Rianor, Yo, pegi kek Ayah sari ni ke tambang men terenyek, tapi sarini ikak hanye nganti bai ok, dak usah jaoh-jaoh maen e,” kata Ayah dengan lembut.

“Yo, Yah, kami gas ikot sarini,” jawab mereka serempak penuh semangat.

“Kalok macem tu, gilah bekemes, Ayah nunggu di dapuk tempet ruang makan bo,” ujar sang Ayah kembali.

“Aoklah ayahku.”

Kedua anak kembarnya itu langsung bergegas bersiap-siap. Beberapa menit kemudian, mereka langsung keluar, berjalan menuju dapur.

“Em…, nyiom dari mambu e, nyamen dugo e masakan Emak ni. Ape agik yang dimasak Emak sarini ade lempah darat kek lempah kuning sambel belacan,” puji mereka yang langsung duduk bersama ayah dan emaknya itu.

Baca Juga  Nun (2): Tanpa Tanda

“Kan, emang masakan Emak selalu nyamen,” sang Ayah tiba-tiba menyambung ikut memuji.

Tawa langsung pecah di tengah suasana pagi yang hangat, “Lah, lah, yo beduo’ biak rezeki hari ni berkah, sudeh tu langsung maken sebelum ikak pegi ke kulong.”

Dengan suara kecil tapi khusyuk, Rian dan Rianor ikut menirukan doa ayahnya. Setelah selesai, mereka mengucap ” Amin…”

Makanan langsung disantap penuh kenikmatan rasa syukur. Selesai makan, mereka langsung pergi melangkahkan kakinya keluar rumah. Sepanjang perjalanan ditemani kicauan burung-burung merdu, langkah demi langkah tak terasa sampai sudah di kulong timah.

Sang Ayah langsung mencari timah, sementara raut wajah Rian Rianor yang tadinya gembira seketika berubah menjadi sedih, sambil memandangi air yang semakin keruh butek seperti susu cokelat penuh lumpur.

Karena dulu sewaktu mereka masih kecil, sungai itu masih indah, cantik, masih bisa nangguk ikan sambil berenang bersama teman-teman. Namun, sekarang sungai sudah begitu berubah menjadi cokelat tidak enak di pandang lagi.

“Aaa … Ngape tana kelahiran kami jadi cemini, timah emang begitu beharge tapi ngapa alam jadi rusek, sungai la kutor, ikan mati”, ujar Rian mengelus dadanya, Sementara Rianor hanya bisa diam tidak bisa berkata-kata lagi.

Baca Juga  Penguasa Plafon

Rian memegang tangan adiknya, mengajak duduk di dekat kulong, lalu bersama-sama memandangi air yang terus mengalir deras. Langit tiba-tiba berubah menjadi gelap.

Tik, tik, tik, hujan gerimis perlahan membasahi rambut mereka. Namun, Rian dan Rianor tidak juga pergi. Mereka terus saja duduk memandangi dengan mata berkaca-kaca. Lima menit kemudian hujan sudah reda, mata mereka menatap langit sampai pelangi terbentang di langit, melengkung indah muncul setelah hujan.

“Tingok, kak Rian … ade pelangi!” seru Rianor. Suaranya seperti penuh harapan ketika menatap pelangi indah di langit.

“We aok, kenak uge la warna e tu,” sahut Rian.

Malamnya setelah pulang, Rian dan Rianor tertidur lebih cepat karena lelah. Di dalam tidurnya mimpi ajaib muncul, mereka berdua melihat cahaya aneh dalam kulong bekas tambang ilegal. Cahaya itu menjulang tinggi ke langit, berputar-putar lalu berubah jadi pelangi yang berkilau macam yang mereka lihat tadi siang setelah hujan.

“Hay Rian, Rianor, kenalin ku ni pelangi timah, ku datang bukan untuk pegi maen tapi untuk menyadarkan budak-budak Bangka Belitung tentang arti kejujuran, dan care jage tanah Serumpun Sebalai provinsi kite ni.”

Baca Juga  Rindu di Ujung Waktu

Mereka begitu terkejut, matanya membulat, “Hey pelangi, rupe e ka pacak uge ok ngumong,” ujar Rian.

“Tapi, ape maksud nasihat yang nek ka umong kek kami bedue?” tanya Rianor penuh penasaran.

Pelangi itu tersenyum lebar, warnanya berkilau makin terang, memantul di air kulong yang gelap.

“Yo, gilah kek ku, nek ku tunjukkan ikak, cem mane seharus e manusia idup di dalem alam yang sering membuat mereka sering lupak.”

Sekejap mata, Rian, Rianor dibawa terbang di atas kampunya. Angin meniup rambutnya secara perlahan dan di bawah tampak kulong-kulong bekas tambang. Tetapi aneh, di satu sisi ada yang bening, ikan meloncat-loncat, anak-anak mandi sambil tertawa riang, bahkan banyak buah serta bunga warna- warni dan pohon tinggi yang cantik.

“Ngape kulong ni jadi berse kek beda, pelangi,” tanya mereka berdua serempak.

Pelangi menjawab pelan, “Karne ade manusio yang tamak, ambik timah banyak tapi dak nek muleng alam. Kalok urang tu dak serakah ngambik timah secukup e bai, mungkin dak ken rusek. Alam tu tidak merajok, tapi die sedih karena manusia nih lupak care beterima kasih.”