Si Kecit dan Pelangi Timah
Rian Rianor menunduk merasa malu pada diri sendiri. Lalu mereka dibawa lagi ke tempat lain, kali ini pelangi menunjukkan satu pohon rindang dibtengah padang hijau. Anak-anak belajar sambil tertawa riang,vada Bapak Ibu guru yang mengajar, alam dan burung-burung bernyanyi merdu di dahan.
Namun, tidak jauh dari situ, Rian dan Rianor melihat tanah gersang, pohon tumbang, hutan gundul, debu berterbangan, ikan mati mengapung. Mereka sesak hatinya, terasa berat.
“Pelangi, ngape jadi cemini?” tanya mereka.
Pelangi menjawab, “Karne manusio lupak care bersyukur, inilah beda e men kite jage alam dengan tulus, alam pacak jage penuh kebaikan atau dengan kerusakan. Manusia ni cuman mikir timah, bukan kehidupan, padahal tanah ni tempet kite berpijak bukan cuman diambik hasil e bai.”
Dikeluarkan pelangi satu bongkahan emas besar yang cahaya berkilau lalu ia kembali berkata, “Rian, Rianor, timah ni pacak ku jadiken emas, men ikak nek ambiklah, simpen diem-diem. Ini pacak ngebuet kayo biar ayah ikak dak payah agik begawe saro macemini, cukup dudok santai di umah,” kata Pelangi
Si kembar kakak adik Rian dan Rianor itu terdiam sejenak, mengingat setiap nasihat Ayah emaknya dan menjawab, “Dak, pelangi, kami urang e dak terenyek jadi pembulak, men kami ambik emas nih sendiri, itu same bai serakah. Jadi, lebih baik die menjadi cahaya bagi banyak urang, ukan anye untuk kami surang.”
Pelangi tersenyum lebar. Warnanya berubah semakin terang, seakan langit bersinar bahagia, “Bagus Rian, Rianor, ikak jujur, lebih milih kebaikan untuk semue daripada untuk diwek. Karne jujur tu adalah emas sejati.”
Lalu timah itu seketika berubah jadi lentera kecil yang bersinar lembut bagai cahaya bulan.
“Lentera ni Rian, Rianor,” ujar Pelangi.
“Die akan bersinar selama ikak, keluarga, kek urang-urang kampung bebuat baik, jujur, serta njage alam. Tapi men serakah, die bakalan padem.” Lanjutnya kembali.
Si kembar Rian, Rianor menatap lentera dengan kagum. Cahaya dari lentera menyentuh wajah mereka yang terasa hangat dan damai. Mereka memeluk erat-erat lentera itu dan berkata, “Makase, pelangi, kami janji bakalan jage tanah kek kampung kami, Dak ken kami biar agik kulong kite nangis,” ujar mereka berdua kompak.
Pelangi makin tersenyum cerah,Setelah itu angin bertiup pelan dan cahaya pelangi perlahan memudar. Tinggal warna-warna hapus yang terbang di langit serta serbuk cahaya.
Mereka mencoba memanggilnya kembali, tapi suaranya tidak keluar dan seketika semuanya menghilang. Kukuruyuk …, mereka terbangun. Dadanya masih berdebat kencang, cahaya remang pagi menembus cahaya dinding rumah papan mereka.Tapi ada yang aneh, di samping bantal, lentera kecil bercahaya lembut itu benar-benar ada!
“Ya Allah Kakak, ternyata die beneran ade yang di mimpi ni.” Ujar Rianor.
Mereka langsung berlari bersama ke dapur, di mana Ayah sedang menyiapkan kopi, sementara Emak lagi membuat kue kroket dari singkong.
“Ayah, Emak, tingok nih! Pelangi merik kami lentera, ni kami dapet e dari mimpi,” ujar Rian dan Rianor kepada kedua orang tuanya itu.
Kedua orang tua mereka itu pun terkejut dan merasa gemetar saat memegang cahaya lembut dari lentera itu.
“Dari Mane ikak bedue dapet ni?” tanya emaknya penuh penasaran.
“Aok Ri, Nor, dari mane, ras e e mustahil men dari mimpi,” kata Ayah kepada anak-anak wanya itu.
Mereka kemudian menceritakan panjang lebar secara detail tentang pelangi timah, tentang pesan jujur dan menjage alam, Ayah dan Emak tersenyum meski separuh hatinya belum percaya, tapi bangga.
“Kalau bener cem itu, tanda e harus jadi anak baik, lentara tu jangan hanye di simpen tetapi dipakai untuk menerangi perbuatan baik,” kata ayahnya.
Setiap hari Rian, Rianor selalu ngingat pesan Pelangi Timah untuk ngajak kawan-kawan serta masyarakat untuk bersih-bersih di tepi kulong, menanam pohon sama selalu jujur dalam setiap hal kecil. Lentera kecil yang di letakkan di kamar terpancar, semakin terang setiap kali berbuat kebaikan.
Bagi Rian dan Rianor, cahaya pelangi bukan sekadar cuman mimpi keajaiban. Itu adalah tanda kalau kejujuran dan cinta alam bakal selalu jadi cahaya sejati penuntun hidup yang tidak pernah padam.
Pesan cerita:
Timah memang berharga, tapi yang lebih berharga lagi adalah kejujuran, kebersamaan dan cinta pada alam Bangka Belitung.
Dari tahan kite ini, kita diajarkan bukan cuman untuk ngali timah tapi tetapi juga bagaimana menggali makna idup yang sesungguh eh. Si kembar adik kakak Rian Rianor ini mengajarkan bahwa kekayaan sejati ukan berasal dari yang kite ambik tapi dari ape yang kite jaga dan kite bagi.
Kalau manusia anye ngambik tanpa peduli bumi akan nanges, tapi kalau belajar mencintai alamnya, nanem kembali yang telah ilang dan hidup dengan jujur, maka alam pun bakal ngebales dengan ke indahan dan kehidupan yang berlimpah.
Lentera yang bersinar di tangan Rian Rianor jadi simbol bahwa kebaikan akan selalu hidup selame ade hati tulus. Kisah nih ngingetin kite semuin terutama generasi muda Bangka Belitung, untuk terus menjaga warisan alam, menjunjung tinggi nilai kejujuran dan saling membantu demi masa depan yang lebih cerah.
Sebab pelangi sejati bukan muncul setelah hujan, tapi juga dari orang-orang yang mau berbuat baik dan menjaga dunia dengan kasih.
