Perjalanan di Hutan Rimba (Bagian II)
Tak lama, pintu terbuka. Seorang lelaki tua muncul, rambutnya yang memutih mencerminkan kebijaksanaan dari pengalaman hidupnya yang panjang. Ia menatap mereka dengan rasa heran bercampur iba.
“Wa’alaikumussalam. Ada keperluan apa, Nak?” tanya lelaki tua itu dengan suara rendah namun ramah.
Paejo, dengan napas masih terengah-engah, menjelaskan bahwa mereka tersesat di hutan setelah mencari getah damar dan kehabisan bekal. Jono dan Agus hanya berdiri diam, wajah mereka tampak lega setelah berjam-jam diliputi kecemasan.
“Oh, begitu,” kata lelaki tua itu. “Masuklah, Nak, kalian pasti sangat lelah. Silakan istirahat di sini sebentar.”
Dengan rasa syukur yang tak terhingga, ketiga bersaudara itu masuk ke dalam rumah. Rumah sederhana itu terasa hangat, dengan aroma kayu bakar yang menguar dari dapur. Mereka diberi makanan dan air minum oleh lelaki tua itu. Pak Tua, yang ternyata sudah tinggal sendiri di pinggir hutan selama puluhan tahun, menceritakan bahwa ia sering menolong orang-orang yang tersesat seperti mereka.
“Terima kasih, Pak,” ucap Paejo dengan tulus.
“Tidak masalah, Nak. Kalian sudah beruntung bisa sampai ke sini. Hutan itu memang mudah membuat orang tersesat. Besok pagi, aku akan tunjukkan jalan pulang ke desa kalian.”
Dengan hati yang mulai tenang, mereka mengucapkan terima kasih lagi kepada lelaki tua tersebut. Di tengah suasana yang tadinya penuh ketakutan dan kecemasan, kini mereka bisa beristirahat dengan perasaan lega, yakin bahwa mereka akan pulang dengan selamat.
—
Sementara itu di dalam hutan yang gelap, keheningan malam sesekali dipecahkan oleh suara burung hantu. Poniman, Anton, dan Dani tetap melanjutkan pencarian dengan sangat hati-hati, menerobos kegelapan. Perjalanan yang terasa sangat panjang mulai membuat mereka lelah, namun Poniman tidak mau menyerah. Sesekali, ia berteriak memanggil nama anak-anaknya, berharap ada jawaban dari dalam hutan. Namun hanya suara burung malam dan binatang hutan yang menyahut.
Setelah berjam-jam mencari, mereka akhirnya melihat cahaya kecil dari sebuah rumah di pinggiran desa sebelah. Dengan penuh harapan, mereka mempercepat langkah menuju cahaya tersebut. Poniman mengetuk pintu dengan keras, sementara Anton dan Dani berdiri di sampingnya.
“Assalamu’alaikum,” panggil Poniman dengan suara yang sedikit bergetar.
Pintu rumah itu terbuka, dan lelaki tua yang menolong anak-anak Poniman tadi berdiri di sana.
“Wa’alaikumussalam. Ada yang bisa saya bantu?” tanyanya dengan ramah.
“Kami sedang mencari anak-anak saya yang terdiri dari tiga orang. Sepertinya mereka tersesat di hutan karena sampai saat ini belum juga kembali ke rumah setelah mencari getah damar,” jawab Poniman dengan cemas.
Lelaki tua itu tersenyum lembut. “Masuklah, anak-anakmu ada di dalam rumah ini.”
Mendengar itu, Poniman hampir tak percaya. Ia segera melangkah masuk, dan di dalam sana, ia melihat Paejo, Jono, dan Agus duduk di dekat perapian, wajah mereka tampak lelah namun lega.
“Bapak!” seru Paejo, bangkit dan berlari memeluk Poniman. Jono dan Agus segera mengikuti, air mata bahagia membasahi pipi mereka yang polos.
Poniman memeluk anak-anaknya erat, bersyukur mereka selamat. “Alhamdulillah, kalian baik-baik saja. Ibu kalian sungguh sangat khawatir.”
“Kami tersesat, Pak,” kata Paejo, “tapi Pak Tua ini menolong kami.”
Poniman menoleh ke arah lelaki tua itu, wajahnya penuh rasa syukur dan terima kasih. “Terima kasih banyak, Pak, sudah menolong anak-anak saya.”
Lelaki tua itu mengangguk dengan senyum bijak. “Besok pagi, aku akan tunjukkan jalan pulang ke desa kalian. Sekarang, istirahatlah.”
Dengan hati yang lebih tenang, Poniman, Anton, dan Dani bergabung dengan anak-anak di dalam rumah sederhana itu. Malam itu, meskipun berada jauh di tengah hutan, keluarga Poniman merasa aman. Mereka yakin bahwa esok hari mereka akan kembali ke rumah dengan selamat, membawa cerita tentang kebaikan seorang lelaki tua yang tinggal di pinggir hutan.
Penulis merupakan Kepala SMKN 1 Tukak Sadai, Bangka Selatan.
