Oleh: Putri Simba

Di kegelapan malam yang sepi, sunyi tanpa suara, aku, Dinda, tertidur lelap di kasur jelekku itu. Malam itu aku bermimpi di pagi yang cerah, aku melangkah menuju kantor gubernur, membawa sebuah tas ransel yang di dalamnya berisi penuh catatan.

Diriku duduk di bangku taman kantor gubernur dan membuka buku itu, membaca catatan-catatannya dengan senyum samar. Catatan itu bukan sekadar tulisan, melainkan kumpulan pelajaran hidup yang kudapatkan dari seorang guru yang sangat berjasa dalam hidupku, Pak Hendra S.Pd, M.M.

Beberapa tahun telah berlalu. Kini, diriku, Dinda, sudah menjadi penulis muda sekolah, juga kabupatenku yang mampu menciptakan buku-buku indah dengan sejuta makna. Yang dulu hanya bisa kuimpikan, berkat dorongan dari Pak Hendra, kini, diriku, Dinda, bisa menjadi penulis. Bapak kepala sekolahku yang telah lama dipindahtugaskan ke sekolah lain.

Pak Hendra ini di mata seorang Dinda bukan hanya seorang guru yang mengajarkan ilmu, tetapi juga teman dan penasehat yang selalu ada ketika Dinda membutuhkan arahan. Di kantor, di tengah kesibukan membaca, seorang lelaki berbaju PNS memanggilku dan seketika raut wajahku begitu bahagia. Ternyata yang menyapaku itu adalah kepala sekolah lamaku, Pak Hendra.

Baca Juga  Ibu, Aku Mencintaimu

“Asalamualaikum Dinda,” ucap bapak kepala sekolah memanggilku yang tengah duduk di kursi putih taman.

“Wa’alaikumussalam, Pak,” jawabku singkat penuh senyuman gembira.

“Bapak apa kabar, ternyata Bapak benar-benar datang!” ucapku dengan mata berbinar.

“Alhamdulillah, kabar Bapak baik, Nak. Bapak bangga padamu, Nak, sekarang kamu benar-benar sudah menjadi penulis hebat. Semoga kamu sehat dan sukses selalu ya, Nak, Bapak selalu terus mendukung langkahmu, meski kita jarang bertemu dan dipisahkan jarak,” sahut bapak kepala sekolahku itu.

“Maasyaallah, terimakasih, Bapakku, seneng banget hari ini bisa dipertemukan dengan Bapak, setelah sekian lama tidak bertemu,” ucapku lagi kepada kepala sekolahku itu sembari meneteskan air mata haru.

Baca Juga  Sehari di Kampung Adat Gebong Memarong

Di kursi taman, aku dan sang kepala sekolahku itu duduk bersama sambil berbicara tentang banyak hal. Pak Hendra mendengarkan cerita diriku, tentang keberhasilanku, tentang perjalanan hidupku, dan diriku juga mendengarkan cerita pak Hendra tentang suka-duka sebagai guru selama di Smansa.

“Pak, aku tidak akan pernah melupakan semua pelajaran hidup yang Bapak berikan dahulu ketika Bapak sering memberikan yang terbaik, tetapi Bapak selalu bilang bahwa aku harus percaya pada kemampuan diri sendiri,” kataku dengan nada haru.

Pak Hendra sang kepala sekolah lama itu tersenyum dan menepuk tanganku, dengan lembut.

“Din, kamu adalah salah satu murid yang sangat berbakat. Kamu hanya butuh seseorang untuk membantu terus mengembangkannya.Dan lihat sekarang, kamu sudah tumbuh menjadi wanita yang hebat dan berhasil,” ucap Pak Hendra, sang gurunya itu.

Baca Juga  Bumbu 3: Rasa Syukur di Balik Kesederhanaan

Percakapan itu membawa diriku kembali ke kenangan yang telah diukir bersama dengan kepala sekolahku itu. Diriku ingat saat-saat sulitku di sekolah, saat aku merasa rendah diri dan tidak yakin dengan bakatku di dunia kepenulisan, juga masa depan.

Di saat itu, Pak Hendra selalu memberikan dukungan dan motivasi, dan berharap siswanya itu bisa menciptakan sebuah buku dan berhasil di masa depanya. Kata-kata motivasi yang diberikan sang kepala sekolah, selalu membuat aku, Dinda, terus semangat tak pantang menyerah hingga mampu mencapai impianku.

Siang itu, sebelum berpisah, aku mengeluarkan sebuah buku catatan kecil, juga sederhana yang penuh dengan kutipan dan pesan dari pak Hendra, aku membacakan beberapa kutipan, dan Pak Hendra tertawa kecil mendengarnya.

“Hahaha,” tawa renyah Pak Hendra.