Karya: Sheila Fiorencia Caroline, Siswi SMKN 1 Sungailiat

Dengung sirene ambulans terdengar di mana-mana. Suara ricuh kepanikan massal pun ikut terdengar, memekakkan telinga dan membuat kepalaku sakit tak karuan.

Orang-orang nampaknya mengerubungi karena suatu hal. Walaupun tidak terlihat jelas, aku yakin itu adalah ekspresi takut, terkejut, dan sedih.

Bau logam dan amis darah menyengat tercium oleh hidungku.

Tiba-tiba saja indraku menjadi sangat peka, aku bahkan mencium banyak aroma yang bercampur menjadi satu.

Suara-suaranya sangat berantakan, bau-bau aneh terus masuk ke hidungku, serta pandanganku buram dan terdistorsi oleh bayang-bayang yang bergoyang.

Kucoba menggerakkan jari-jariku, yang kudapatkan adalah rasa sakit yang luar biasa. Sesaat aku merasa seluruh tubuhku kesemutan parah.

Aku sangat ingin berteriak, namun lidahku terasa kelu dan tenggorokanku serasa dibelah menjadi dua.

Suara-suara itu, suara mereka yang panik dan ketakutan. Bau keringat bercampur amis darah yang menyengat.

Tubuhku yang hancur entah bagaimana bentuknya. Semua itu tiba-tiba hendak menyatu menjadi satu. Itu menyakitkan, sangat menyakitkan.

Terlalu pedih, terlalu mengerikan, terlalu menyedihkan. Mereka membentuk titik putih yang menyilaukan secara perlahan.

Titik putih yang semakin lama semakin besar, pada akhirnya itu menutupi seluruh pandanganku. Tubuhku tiba-tiba terasa rileks, seolah-olah aku sedang melayang di atas udara.

Aku terbang di sebuah ruang putih yang sangat hampa. Mataku yang setengah terbuka tidak mampu lagi membedakan mana kenyataan dan mana yang hanya imajinasi.

Baca Juga  Impian Syarifah

Aku merasa sangat ingin tidur dan tetap berada di keadaan seperti ini selamanya.

Tiba-tiba saja, dengan sangat cepat, aku merasa ditarik oleh sesuatu untuk memasuki ruang warna-warni yang bergerak dengan sangat cepat sampai tampaklah cahaya terang yang sangat menusuk mata, dari titik kecil menjadi pancaran cahaya yang besar.

Perlahan aku kembali ke dunia nyata. Objek-objek dunia kembali menyatu menjadi jelas.

Sosok pria yang semula buram, semakin lama semakin jelas terlihat.

Sekitar satu menit kemudian, aku melihat seorang pria memakai masker dan pakaian medis hijau sedang menerangi mata kananku dengan senter kecil.

“Tuan, bisakah anda mendengar saya?”

Aku mendengar suaranya yang panik, namun halus. Satu sisi itu menenangkan, namun di sisi lain itu mengkhawatirkan.

Hanya saja, aku tidak mampu meresponnya. Tidak memiliki kekuatan untuk berbicara maupun bergerak.

Semula hanya perasaan mati rasa yang tak tergambarkan, kini rasa sakit kembali menyatu menjadi satu. Rasa sakit, perih, dan kesemutan bercampur menjadi satu.

Kurasakan mataku yang memburam dan basah. Kapan lagi tubuhku bisa sangat sesakit ini? Tiba-tiba aku merasakan deja vu.

Ini adalah perasaan yang sama saat aku pertama kali mendengar suara sirene ambulans. Dunia seakan sedang berputar-putar.

Bedanya kali ini mataku terasa sangat berat. Tubuhku mendadak menegang. Kepalaku terasa sangat sakit ditambah pandanganku yang terus berputar. Pada akhirnya, semuanya menjadi gelap.

Baca Juga  Sirius (Tamat)

*****

Saat kubuka mataku kembali, aku langsung melihat tepi jurang yang curam. Seketika aku menyadari aku berada di atas tepi jurang berbatu yang curam.

Aku menatap ke bawah dan aku tidak bisa melihat dasarnya. Hanya ada kabut tebal tanpa ada pijakan.

Belum sepenuhnya pulih dari keterkejutan, tiba-tiba aku merasa seseorang mendorongku dari belakang. Aku terjatuh yang kecepatan penuh.

Teriakanku menggema dari sudut ke sudut. Gambaran tepi jurang semakin lama semakin menghilang dari pandanganku.

Namun sebelum itu menghilang, aku melihat sosok pria tua yang kemungkinan besar telah mendorongku. Dia mengintip sebentar sebelum akhirnya pergi begitu saja.

Tenggorokanku sakit, suaraku hampir habis. Namun, aku masih belum berhenti jatuh. Sudah beberapa kali aku menembus kabut.

Aku terus meluncur ke bawah tanpa tahu kapan akan menyentuh tanah. Apa yang sebenarnya terjadi? Apa ini mimpi? Roda gigi di kepalaku terus berputar sampai tiba-tiba jatuhku melambat. Kabut pun menghilang secara perlahan.

Aku berputar menghadap ke bawah dan aku bisa melihat tanah. Bukan tanah sebenarnya, lebih tepatnya sebuah hamparan rumput luas.

Aku pun terjatuh dengan sangat pelan sampai-sampai aku bisa langsung menapakkan kaki telanjangku ke rumput.

Sampai di sini aku paham bahwa aku benar-benar sedang bermimpi.

Baca Juga  Sepucuk Surat Receh untuk Kakak (Tamat)

Aku mendarat di sebuah hamparan rumput luas dipenuhi bunga dan kupu-kupu. Beberapa pohon besar berdiri dengan kokoh.

Aku berjalan mencoba untuk menelusuri lebih jauh tempat yang kutapaki saat ini. Aku bisa merasakan rumput yang masih basah di kakiku.

Aku menatap semak-semak tinggi dan besar di dekat sebuah pohon apel.

Nampak seperti benteng yang bersiap melindungi apapun yang ada di dalamnya.

Aku berjalan melewatinya, menyingkirkan ranting-ranting dan dedaunan yang menggangguku selama melintas.

Saat keluar dari semak-semak, aku disuguhkan pemandangan yang menghangatkan jiwa.

Tak kusangka ada sebuah taman bermain di taman luas ini. Berbagai macam permainan, seperti ayunan, jungkat-jungkit, perosotan, dan lain sebagainya, bahkan beberapa anak bermain bersama di sana.

Namun, yang paling menarik perhatianku adalah dua gadis yang sedang bermain ayunan. Mereka duduk berdampingan di atas ayunan dua kursi yang terbuat dari kayu jati.

Seorang gadis bergaun putih dan berambut pirang, sedangkan gadis lainnya bergaun hitam dan berambut hitam pula.

Jiwa serasa diajak bermain bersama mereka. Tanpa sadar aku berjalan ke arah mereka dan duduk di kursi ayunan yang berlawanan arah dari mereka, sehingga kami bisa saling menatap satu sama lain.

Tanpa ada rasa terkejut sedikitpun, gadis berambut pirang tersenyum padaku seolah dia memang menunggu kehadiranku.