Oleh: Agustian Deny Ardiansyah, S.Pd.

“Sesungguhnya, hidup itu ibarat sebuah buku. Siapa yang tidak pernah belajar, sama saja dengan buku yang tidak pernah dibaca” (Ki Hajar Dewantara).

Siapa yang tak kenal dengan nama besar itu, Bapak Pendidikan Nasional Republik Indonesia, Ki Hajar Dewantara.

Saat ini nama beliau kembali merekah setelah digulirkannya merdeka belajar oleh mantan Menteri Pendidikan Indonesia Mas Nadiem Anwar Makarim.

Konsep merdeka belajar adalah konsep yang lahir dari buah pikiran Ki Hajar Dewantara tentang manusia merdeka. Dengan merdeka belajar diharapkan siswa mampu mengembangkan dan mengatur cara belajar mereka secara mandiri dengan guru sebagai seorang fasilitator.

Namun, apakah kita sudah pernah membaca pemikiran Ki Hajar Dewantara secara khusus? Atau melahap habis buku-buku tentang Ki Hajar Dewantara atau tulisannya?

Baca Juga  Buka Puase Nam

Saya sendiri juga belum sedalam itu dalam mengeksplorasi pemikiran Ki Hajar Dewantara tentang pendidikan atau lainnya.

Baru sebatas membahas kulitnya saja ketika mengikuti Pendidikan Guru Penggerak Angakatan 6 tahun 2022 kemarin.

Tak dapat dipungkiri bahwa Ki Hajar Dewantara adalah sosok guru bangsa yang sangat produktif dalam menuliskan berbagai perspektif pemikirannya.

Salah satunya adalah kutipan tulisan Ki Hajar Dewantara yang terbit pada surat kabar De Express dengan judul Als Ik Eens Nenderlander Was (Seandainya Aku Seorang Belanda).

Tulisan itu mampu membuat pemerintah kolonial pada saat itu murka dan akhirnya membuat beliau diasingkan.

Setelah kembali dari pengasingan, kemudian Ki Hajar Dewantara mendirikan perguruan nasional taman siswa yang memberikan hak yang sama bagi kaum pribumi untuk mengakses pendidikan.

Baca Juga  Manfaat Pelatihan CA-HNR di AR Learning Center: Tingkatkan Kredibilitas dan Buka Peluang Karir di Dunia Menulis

Maka sebagai seorang guru Indonesia sudah sepantasnya selain kita mengenal nama beliau. Kita juga harus meneladani sikap beliau yang rajin membaca, menulis, dan berani untuk mengaktualisasi pemikirannya dalam rangka menjawab persoalan bangsa.

Dalam kata lain guru Indonesia harus rakus membaca yang kemudian dinarasikan dalam bentuk tulis dan diaktualisasi dalam tindakan.

Kenapa membaca? Membaca adalah fondasi terpenting dari pendidikan.

Karena dengan membaca kita mendapat wawasan dan ide baru yang mampu menggerakkan diri kita untuk melakukan suatu perubahan dalam tindakan kita sebagai guru.

Bahkan jika ditelisik lebih jauh, pemerintah dalam hal ini Kemendikbudristek telah memiliki kebijakan untuk menciptakan budaya membaca.

Seperti Gerakan Literasi Sekolah (GLS), mendirikan perpustakaan baik di sekolah atau desa, mendorong adanya buku bacaan bermutu bagi literasi Indonesia berkualitas atau gratis ongkir pengiriman buku setiap tanggal 17 lewat PT Pos.

Baca Juga  Flood Disaster in Eastern Pakistan: A Conservation and Environmental Management Perspective

Akan tetapi kebijakan tersebut seolah mengalami “kemandekan” bahkan di sekolah-sekolah mengartikan literasi hanya dengan menerbitkan buku atau menghasilkan karya tulis.

Mungkin juga “kemandekan” itu terjadi karena guru yang tidak bisa menjadi role model dalam kegiatan literasi di sekolah sehingga eksplorasi literasi menjadi terhenti dan mati.

Bagaimana kita ingin membuat suasana literasi hidup di sekolah sedangkan para gurunya tidak memiliki ketahanan dalam membaca atau sekolahnya alfa dalam menghadirkan buku bacaan bermutu bagi siswanya.