Oleh: Putri Simba

Dinda Nurmalasari, seorang pelajar yang terlahir dari keluarga sederhana di sebuah desa kecil. Dinda terkenal di sekolahnya sebagai seorang siswa disiplin, galak, yang suka memerahi teman-temannya ketika mereka mengotori kelas.

Namun, di balik kedisiplinan serta sifat galaknya itu, banyak teman-temannya, juga gurunya, tahu bahwa Dinda adalah siswa yang peduli sesama dan antarteman, meskipun dirinya sendiri sering dihina dan dicaci maki oleh siswa lainnya.

Meskipun takbanyak yang mengungkapkan rasa terima kasih akan pengorbanannya selama ini, tetapi dia sudah berusaha keras memberikan yang terbaik.

Siang itu, di kelasnya sendiri, XII IPA, ditemani udara yang begitu dingin karena sehabis hujan deras, tepatnya setelah pelajaran Penjaskes mapelnya pak Hendra selesai, Dinda duduk di bangku. Dia membaringkan kepala di mejanya, merenung sembari menangis dalam diam, tanpa ada yang mengetahuinya.

Tubuhnya terasa semakin lemah tak berdaya. Namun, dia tahan, harus kuat di hadapan semua orang. Sejak beberapa bulan terakhir, dia sering merasa pusing, nafasnya terkadang sesak, rambutnya semakin rontok, nafsu makanya berkurang, tapi dia menganggapnya hanya kelelahan biasa. Bukan sakit. Lagipula, siapa yang akan peduli? Dia hanya seorang siswa biasa yang terus semangat belajar menggapai masa depan menjadi seorang polwan sukses.

Hari demi hari terus berlalu, sakitnya semakin parah. Di pagi hari yang begitu cerah, saat dia sedang duduk di bangkunya dibarisan pertama, dia sedikit bergumam karena merasa ada sesuatu yang aneh dengan dadanya.

Baca Juga  Renjana Rumahku

” Loh,kenapa dadaku semakin sakit ya, kepalaku juga semakin berat lalu berkabut ingin pingsan. Apa yang terjadi? Tapi sudahlah, nanti juga sembuh,” gumamnya di dalam hati.

Tak lama teman-teman kelasnya mengajak bermain. Namun, Dinda menolaknya, beralasan kalau dia sedang bad mood malas ngapa-ngapain. Padahal aslinya tidak begitu, dia hanya menutupi rasa sakitnya saja.

“Din, mari kita bermain bersama, mumpung hari ini Guru Matematika kita tidak masuk karena sakit, jadi, yuk, main bareng,” ucap teman-teman kelasnya mengajak bermain bersama.

“Kalian saja, ya, yang bermain, aku sedang tidak ingin bermain,” bohong Dinda.

” Owh, okay, Din,” sahut teman kelasnya itu hampir berbarengan.

Dinda hanya bisa duduk sambil membaringkankepalanya dengan lesu diatas mejanya karena menahan sakit yang terus menyiksanya sepanjang hari. Dia berharap bisa sembuh dan itu hanyalah angin lalu, takada yang tahu. Teman -teman yang ceria berlarian ke sana ke mari, tertawa bersama, sementara Dinda hanya diam tanpa suara.

Tanpa terasa telah dibunyikan, semua siswa juga para guru dan teman-teman kelasnya meninggalkan kelas. Namun, tidak dengan Yusuf, dia malah duduk di mejanya sambil menikmati masakan lezat sang Ibunda. Yusuf melihat Dinda yang lemas dan masih duduk di bangkunya tampak seperti ingin tidur, tetapi wajahnya pucat dan keringat dingin mengucur di dahinya. Yusuf mulai mendekati Dinda karena merasa ada yang tidak beres dengan keadaan temannya itu.

Baca Juga  Pantun Selamat Berpuasa (Bagian III)

“Din … Din … Dindaaa?” Yusuf memanggil, dia mulai mendekati meja Dinda dan berdiri di hadapannya. Dinda yang mendengar panggilan Yusuf membuka matanya perlahan dan tersenyum tipis.

“Oh, Yusuf …, iya, ada apa, ya, Suf?” jawabnya dengan suara yang lemah.

“Din, kamu kenapa? Kayaknya kamu lagi nggak enak badan, deh. Harus ke puskesmas itu, ayok mari aku antar kamu berobat, aku kasihan melihatmu seperti ini, Din. Meski aku sering menjahili kamu, tetapi aku gak tega kalau kamu seperti ini,” ujar Yusuf kepada Dinda penuh perhatian tak ingin dirinya kenapa-kenapa.

Dinda yang mendengarkan perkataan Yusuf yang biasa dipanggil Ucup, tertawa kecil, meskipun suaranya terdengar seperti menggerung.

“Ah, nggak apa-apa, Suf. Ini cuma sedikit pusing. Kamu nggak usah khawatir, sana kamu pergi aja istirahat kalau kamu belum makan,” sahut Dinda kepada Yusuf.

Yusuf dengan berat hati mulai meninggalkan Dinda sendirian dengan perasaan sedikit cemas. Kurang lebih semenit Yusuf meninggalkan Dinda, terdengar suara gedebuk. Dinda terjatuh dari mejanya, dia pingsan.

Seorang siswa yang melihatnya tergeletak di lantai dengan cepat memanggil sang guru, semua guru berkerumun di kelas itu panik lalu segera melarikan Dinda ke pukesmas terdekat. Di saat Dinda sudah dilarikan ke pukesmas, Yusuf kembali ke kelas untuk menemui Dinda, tetapi setibanya Yusuf di kelas dia terkejut, mengapa semua orang sangat ramai di kelasnya itu.

Baca Juga  Di Ujung Senjamu

“Loh,kenapa ramai sekali dekelasku, bukunya tadi hanya Dinda saja ya?” gumam Yusuf.

Tiba-tiba seseorang berbicara kepadanya

“Yusuf, kok, kamu masih di sini? Kamu belum tahu, ya? Dinda baru saja dilarikan ke Puskesmas terdekat,” kata anak kelas sebelah kepadanya.

“Tuh, kan, bener Dinda sakit, tau gitu tadi aku tidak pergi keluar,” sahut Yusuf bersedih yang mulai meneteskan air mata.

“Sabar ya, Suf, ternyata, Dinda sakit parah. Sudah lama sebenarnya, tapi dia takpernah ingin memberitahukan siapa pun. Dia tidak ingin ada yang khawatir, tapi sekarang ia sedang di pukesmas. Namun, tadi barusan ada telepon bahwa Dinda dilarikan ke rumah sakit terbesar yang ada di kota ini,” ucap teman kelas sebelahnya itu.

Yusuf terdiam, wajahnya pucat. Semua perasaan cemas yang tadi ia abaikan kini meledak menjadi rasa bersalah yang besar. Dia taktahu apa yang harus dilakukan, hanya bisa terdiam. Di kelas, ia sering merasa takpeduli, sering menjahili Dinda .

Keesokan harinya, Yusuf datang ke rumah sakit bersama Kepala Sekolah lamanya yang ingin sekali Dinda temui setelah lama berpisah tak bertemu. Dia berdiri di depan ruang perawatan intensif, merasakan berat di dadanya. Ia tahu, tidak ada yang bisa membalikkan waktu.