Oleh: Putri Simba

Siang itu, angin berembus lembut di lapangan sekolah. Dinda duduk di bangku panjang di bawah pohon mangga yang rindang. Dia berteriak mengingat kembali kejadian setahun silam, kejadian yang membuat dirinya hancur tak berdaya.

“Tidaaak! Mengapa diriku mengingatnya lagi, aku benci hari itu, benci sangaaat, aaa!!!” teriak Dinda keras di bangku itu.

Dinda terus saja berteriak di bangku itu mengingat-ingat dukanya, air matanya mengalir deras. Tiba-tiba, tap … tap … tap … seorang guru menghampirinya. Pak Guru itu bertanya ada apa dengannya. Beliau adalah Pak Dermawan, sang wali kelasnya.

“Nak, apa yang terjadi padamu?” tanya Pak Guru yang mulai duduk di samping Dinda.

” Tidak ada apa-apa, Pak,” jawab Dinda yang berusaha mengusap air mata kesedihannya itu.

“Janga bohong kamu, Nak, Bapak tahu kamu sedang tidak baik-baik saja. Sekarang, ayo ikutlah ke ruangan Bapak!” ajak Pak Dermawan, sang wali kelasnya itu.

Baca Juga  Pantun Lebaran Idulfitri (Bagian III): Cikar di Ari Rayo

“Baiklah, Pak,” jawab Dinda singkat.

Tanpa banyak basa-basi lagi Dinda langsung pergi mengikuti Pak Dermawan menuju ruangannya. Di ruangan itu Dinda menceritakan segalanya bahwa ia bersedih bukan karena masalah keluarga, melainkan ia teringat dukanya, Pak Dermawan yang mendengarkan cerita anak didiknya itu hanya bisa menenangkan Dinda untuk terus bersabar dalam menghadapi cobaan hidupnya itu.

“Nak, kamu yang sabar, ya, mungkin ini cara semesta memintamu untuk belajar merelakan, insyaallah nantinya kamu akan mendapatkan kebahagiaan yang jauh lebih baik, dan semoga orang yang telah mengambil barangmu itu mendapatkan hikmahnya,” bujuk Pak Dermawan yang mencoba menenangkan Dinda.

Dinda yang mendengarkan nasihat sang wali kelasnya itu hanya bisa terdiam, terus menangis tanpa hentinya, meskipun hari-hari kejadian itu telah berlalu sangat lama, tetapi rasa kehilangan itu terus membekas di hatinya. Ia masih sering mengingatnya berharap barang itu kembali. Namun, yang ada hanyalah keheningan, sang wali kelasnya itu terus menenangkan Dinda agar ia melupakan kejadiannya.

Baca Juga  Apa Itu Pantun?, Ini Penjelasan Pengertian, Ciri-ciri, dan Jenis-jenisnya

“Nak, sudahlah Nak, jangan bersedih lagi, sekarang tersenyumlah, jika kamu menangis kamu akan jelek seperti badut,” ucap Pak Dermawan menenangkan Dinda lagi.

Dinda tersenyum tipis, sambil sedikit tertawa karena melihat sang wali kelasnya itu yang terus mencoba menenangkannya juga menghiburnya. dalam senyumnya, Dinda bergumam bahwa ia beruntung memiliki sosok wali kelas seperti Pak Dermawan.

“Ya Allah, sebegitu beruntungnya diriku ini, memiliki sosok seorang wali kelas seperti Pak Dermawan yang terus selalu ada mendampingiku di kala sedih maupun senang, rasanya bahagia sekali, beliau bukan hanya sosok seorang walkes baginya, melainkan seperti Ayah sendiri, beliau sangat menyayanginya seperti putrinya sendiri. Semoga Pak Dermawan sehat dan sukses selalu,” gumam Dinda.

Tak lama terdengar ketukan di pintu dari luar, Dinda segera membuka pintu dan melihat seorang siswa, teman Dekatnya Dinda sendiri.

Baca Juga  Haikal dan Buku Tua Pengantar Masa Depan

“Din, aku ingin bertemu Pak Dermawan, bolehkah diriku masuk?” ucap teman Dinda itu.

Dinda mengangguk, temannya itu dipersilahkan untuk masuk ke dalam ruangan. Di ruangan itu Pak Dermawan bertanya mengapa siswanya itu mencarinya.

“April, kenapa kamu kemari, Nak, apa ada yang bisa Bapak bantu?” tanya Pak Dermawan pada April.

“Se-se-sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan, penting, Pak,” sahut April agak gugup.

“Bicaralah Nak, siapa tahu Bapak bisa bantu,” ucap Pak Dermawan kembali.

April mulai mengeluarkan sebuah handphone Samsung dari tangannya, semuanya terkejut melihat barang yang dikeluarkannya itu. HP itu adalah barang milik Dinda, dengan raut wajah rasa bersalah penyesalan April mulai menjelaskan akan segalanya. Dinda yang mengetahui hal itu meneteskan air matanya kembali karena temannya sendiri telah tega kepadanya.