Karya Sheila Fiorencia Caroline

CERPEN, TIMELINES.ID — Setiap kali aku sendirian, kamu akan datang padaku. Saat aku kebingungan, kamu akan memberikan jawaban untukku.

Kau selalu datang di saat yang tepat. Seolah-olah kamu selalu tahu apa yang terjadi padaku dan kau datang sebagai pahlawan yang menyelamatkanku.

Aku akan selalu ingat rasanya sentuhanmu, senyummu, dan bibirmu yang selalu membuatku tergila-gila. Kamu terlalu bagus untuk menjadi nyata.

Sayang sekali hanya sedikit waktu yang kita punya untuk bersama karena satu hal dan lainnya.

“Merry.”

Aku tersentak dari lamunanku. Suamiku nampaknya mencari-cari keberadaanku yang sedari tadi duduk termenung di meja makan.

Dia muncul dengan setelan jas-nya, bersiap untuk pergi bekerja. Aku tersenyum ke arahnya, begitupun dia. Aku berdiri untuk mencium tangannya dan senyumnya semakin hangat dari waktu ke waktu.

“Aku pergi dulu, Mer.”

“Iya, Mas. Hati-hati di jalan, ya.”

Suamiku menoleh ke arahku sebentar sebelum akhirnya pergi dan menutup pintu dengan pelan. Aku hanya berdiri di sana dengan senyum lelah, padahal aku hanya melamun.

Baca Juga  Impian Syarifah

Sebenarnya aku bahagia dia pergi bekerja, mencari nafkah untukku dan calon buah hatiku. Ada sedikit rasa sakit di dalam diriku karena melakukan ini, tapi aku tidak bisa membohongi perasaanku.

Jika dia tahu kebenarannya, apa dia masih akan telaten dan sesabar ini?

*****

Aku melihat sebuah wajah yang familiar muncul di balik bibir pintu. Dia tersenyum kegirangan dan aku hanya tersenyum tipis karena hatiku yang bergejolak.

Biasanya aku akan langsung memeluknya, tapi kali ini hatiku bergejolak tak nyaman dengan rasa bersalah yang dalam.

Sehingga saat dia membuka tangannya untuk memelukku, aku tidak langsung membalasnya. Nampaknya Marc menyadari perbedaan sikapku.

“Ada apa? ”

Aku tersentak kaget, setelah baru saja keluar dari dunia lain, yaitu kepalaku.

“Maaf, aku melamun, Marc. Senang melihatmu lagi.”

Dia nampak cemberut tak puas, “Katakan padaku, apa yang salah? Kau tidak senang aku datang?”

Baca Juga  Sepasang Telapak Kaki yang Sibuk

“Tidak, bukan itu! Aku senang dan aku sangat bahagia kau akhirnya datang lagi. Kau tau aku sangat merindukanmu.”

“Lalu kenapa kau nampak tidak senang tadi saat aku memelukmu? Apa ini tentang suamimu? Apa kau tidak mencintaiku lagi?”

Aku menggelengkan kepalaku, “Tidak, aku lebih mencintaimu daripada dia. Hanya saja aku merasa bersalah karena… melakukan ini padanya.”

Marc lalu duduk di sampingku sambil memegang tanganku, “Kau mungkin harus mengatakan yang sebenarnya. Jika kau ingin bertahan, maka aku akan pergi. Aku akan menyerahkan anak kita padanya. Kau tahu kau prioritasku. Selama kau bahagia, maka aku juga akan bahagia.”

Aku terbelalak kaget mendengar itu, “Tidak, Marc! Jangan tinggalkan aku lagi! Kau tahu betapa hancurnya aku tanpamu, jika takdir berkata lain, hubungan kita tidak akan serumit ini. Ini salahku yang tidak bisa memilih, bukan kau ataupun suamiku.”

“Tapi, Mer. Jika terus seperti ini, kau menyakiti kami. Aku tidak ingin jadi orang ketiga. Kau harus memilih di antara kami atau aku akan pergi!”

Baca Juga  Semanis Coklat

Aku tidak akan membiarkannya pergi lagi dari hidupku, jadi aku langsung memeluknya dengan erat. Dia langsung membalas pelukan itu sama eratnya.

Pelukan itu hangat dan menenangkan kedua jiwa kami yang membeku.

Kurasakan tangannya mengelus rambutku perlahan, tangan besar yang selalu membawa kehangatan yang sama. Dalam dekapannya, aku bisa merasakan detak jantungnya yang berdetak dengan konstan.

Merasakannya saja sudah cukup untuk meruntuhkan keraguanku.

“Aku mencintaimu,” kataku.

“Kau harus tahu kalau aku lebih mencintaimu,” sahut Marc.

Aku tidak tahu lagi berapa lama waktu yang kami habiskan untuk bersama, yang kutahu kami bersama sampai jam 6 sore. Satu jam lagi suamiku akan pulang dari kantornya.

Marc tersenyum sedih padaku, sedangkan aku tidak mampu membendung air mataku. Dia menghapus air mataku dengan jarinya dan itu menenangkanku.

Marc berkata, “Sampai jumpa, kita akan bertemu lagi nanti.”