Litotes sang Sutradara Mahligai Inang
Karya: Dr. Darus Altin
Tuan “Litotes” begitulah sebutan dari seorang Litotes sang sutradara pada semua acara di Mahligai sang Raja Kerajaan Inang yang berdiri sejak 268 tahun yang lalu. Tentunya kerajaan memiliki mahligai dengan perangkatnya yang lengkap dan cukup mewah.
Sang Raja Angkal memang memiliki banyak pembantu-pembantu di kerajaannya, dan yang tampak menonjol salah seorang pembantunya adalah Litotes.
Litotes dengan perawakan yang tinggi semampai, berbadan kurus dan sedikit cukup tampan. Namun sangat piawai ketika menjadi sutradara untuk perhelatan di kerajaan. Misalnya perhelatan akbar berlangsung yakni pelantikan pembesar istana misalnya, bagaimana Litotes memperagakan aksi-aksi piawainya.
Bahkan seringkali, Litotes mulai mengambil alih pekerjaan para pembantu istana lainnya. Seringkali pekerjaan tersebut bukanlah tugas dan fungsi sang sutradara. Pada beberapa acara istana, ada rasa kecewa dari raut wajah para pembantu istana lainnya.
Namun demikian, ada juga sebagian pembantu istana yang tampak santai-santai saja. Mungkin merasa senang karena tidak perlu menghabiskan waktu dan mengeluarkan energi terlalu banyak untuk istana. Seperti itulah candaan para sebagian penjilat istana saat santai mereka.
Sang sutradara “Litotes” ternyata selain mendominasi di semua acara istana. Di balik itu, ternyata memiliki kehebatan bersilat “lidah”. Banyak para pembantu istana yang sebenarnya cakap dalam bidangnya tapi harus terpental dalam “ring satu” istana karena kehebatan silat “lidah” sang sutradara.
Raja seringkali terlena pada acara-acara Litotes yang memukau sang raja dan terkadang lupa memikirkan kehidupan rakyatnya. Beberapa kali sering timbul, letupan-letupan kecil di kerajaan dari aksi massa yang tidak puas dengan kepemimpinan sang raja.
Namun huru-hara kecil tersebut seperti hal yang biasa bagi kerajaan. Bahkan pihak istana terkadang beraksi melampaui batas, seperti kekerasan dalam menindas rakyatnya.
Setelah selesai dan massa pemberontak dibubarkan, sang raja mulai kembali memanggil Litotes si sutradara untuk membuat acara hiburan bagi kerajaan sampai kokok ayam jantan berbunyi. Begitulah gambaran ritme harian kerajaan yang dipimpin sang raja.
