Karya: Fauziah Heriyansyah

Aku mengenang saat pertama aku bertemu dengan bidadari dunia.

Pagi itu, di Panti Asuhan Al-Ikhlas.

“Bangun, semuanya!” perintah Bunda Aisyah. Aku yang pada saat itu bandel tidak memedulikan ucapan Bunda Aisyah dan masih saja terbaring. Tiba-tiba saja, semburan air terasa di mukaku.

“Hah! Apa-apan sih!” ujarku marah ketika mukaku disembur air yang dingin, dan aku melihat pelakunya adalah Colline!

“Tiih!” kataku kesal.

“Makanya, kalau dibangunkan Bunda Aisyah harus cepat bangun!” jawab Colline.

Colline adalah anak yang penuh semangat. Pada saat ditemukan, Colline sudah berumur 7 tahun. Dulu dia nakal sekali, tetapi setelah diajari macam-macam oleh Bunda Aisyah, dia kini menjadi anak yang baik. Oh iya, Colline itu perempuan lho! Hihi…

Aku berlari kecil turun dari tangga panti asuhan dan langsung menuju ruang keluarga. Kulihat Bunda Aisyah dan teman-teman sudah berkumpul di sana.

“Bagaimana kabar kalian?” tanya Bunda Aisyah.

“Baik-baik saja!” jawab semua anak panti, kecuali aku. “Sebelum Bunda berbicara, kita nyanyikan

Baca Juga  Kapal Pengungsi SS Vyner Brooke, Bukti Kekejaman Jepang di Mentok (Bagian I)

Lagu Islami, yuk!” ajak Bunda Aisyah.

“Bagaimana kalau menyanyikan lagu Gita Gutawa yang berjudul Jalan Lurus’, Bunda?” usul Colline. Urusan menyanyi, Colline memang yang paling semangat.

“Ide bagus!” jawab Bunda Aisyah.

Bunda Aisyah dan semua anak panti- kecuali aku menyanyikan lagu yang dimaksudkan Colline. Aku melihat mereka sedang asyik saja menyanyikan lagu indah itu. Setelah selesai bernyanyi bersama bunda tiba-tiba memberikan kabar yang gembira

“Nah anak-anakku, hari ini kita akan kedatangan bidadari, lho.. Di sini, dia akan mengadopsi salah satu dari kalian” jadi sekarang bunda menyuruh kalian menuliskan nama kalian, Bunda akan menuliskan sifat-sifat kalian dan akan dikirim ke bidadari itu- orang yang akan mengadopsi kalian, ujar Bunda Aisyah.

Malamnya…

Sayup-sayup terdengar jam berdentang sepuluh kali, menunjukkan waktu pukul 10.00 malam. Kebanyakan anak panti sudah tidur karena kami diharuskan tidur pukul 09.00 malam, hanya aku saja yang nakal dan tetap melanggar aturan. Meski aku perempuan, kenakalanku terkadang melebihi laki-laki seusiaku. Bahkan Coline sering menyebutku sebagai gadis kecil yang tomboi.

Baca Juga  Lebaran Terakhir

nekad keluar kamar, menuruni tangga dengan sedikit berlari kecil. Kulihat di kejauhan, Bunda Aisyah dan seseorang ibu berjilbab sedang memegang kertas berisi nama seseorang.

“Karina Bunga Citra Lestari Cantik? Namanya memang unik, Bu, tetapi sifatnya buruk!” ujar Bunda Aisyah.

“Ah, jangan berpikir buruk dulu, Bu, namanya juga anak-anak….” ujar perempuan di samping Bunda Aisyah itu.

“Tapi kelakuannya itu lho, Bu, sering menyusahkan! Tapi ya… terserah Ibu saja. Maaf, Bu, saya permisi ke toilet dulu,” ucap Bunda Aisyah.

Sementara Bunda Aisyah ke toilet, aku berlari melewati tangga. Perempuan itu melirikku dan melihat belakang bajuku yang bertuliskan ‘Karina’. Terpaksa aku menoleh dan tersenyum. Lalu kulewati saja perempuan itu tanpa sepatah kata pun.

Esok pagi kami dikejutkan dengan teriakan Bunda yang agak keras, “Bangun, semuanya! Panggil Bunda Aisyah.

Aku menggeliat bangun, tidak terbiasa seperti ini. Biasanya aku tak seperti para penghuni Panti Al-Ikhlas lainnya alias sulit bangun pagi. Aku hanya ingin cepat-cepat mengetahui siapa yang akan diadopsi hari ini

Baca Juga  5 Contoh Puisi Perpisahan Sekolah yang Menyentuh Hati

“Hai, semuanya! Bunda akan memberitahu kalian tentang bidadari yang Bunda bicara kan kemarin. Semalam, Bunda bertemu dengannya, dan…,” belum sempat menye lesaikan kalimatnya, seseorang memotong. Ya, siapa lagi kalau bukan Colline.

“Ibu yang berjilbab putih itu ya?” tanya Colline.

“Betul, Colline,” jawab Bunda Aisyah dengan senyum.

Aku sekarang mengerti, ternyata orang yang tadi malam tersenyum manis kepadaku adalah…. bidadari yang Bunda Aisyah maksud?

“Tetapi tenang saja, di sana kalian akan diberikan kenyamanan yang amat luar biasa karena bidadari ini sangat murah hati dan juga baik pada setiap orang. Bunda sudah mendapat hasilnya, dan yang diadopsi oleh orang itu adalah…,” Bunda Aisyah menghentikan kalimatnya sejenak.

Aku tidak pernah berharap untuk diadopsi, tapi entah mengapa jantungku berdebar kencang dan berfirasat bahwa…

“Karina Bunga Citra Lestari Cantik!” seru Bunda Aisyah. “Kau beruntung sekali, Karina. Hmm…” Bunda heran, “kok bidadari itu mau ya mengadopsi gadis nakal sepertimu?”