Oleh: Rusmin Sopian

“Jadikan buku sebagai amal jariah kita di kemudian hari, dan jadikan “nisan” bahwa kita pernah. Semoga suatu saat kita bisa bertemu bekisah tentang proses kreatif dalam menulis,” tulis Asyraf Suryadin dalam grup Satu Pena Bangka Belitung Rabu (26/2/2025).

Kami bertemu di warkop 77, yang berlokasi di jalan Jendral Sudirman Toby Bangka Selatan. Penulis mendapatkan sebuah buku karya penulis Bangka Belitung Tien Rostini yang disampaikan Datuk Asyraf Suryadin.

Perbincangan kami memang ramai dan berwarna. Bukan hanya soal buku semata. Ditemani para pecinta kopi yang memadati warkop 77. Matahari di atas kepala.

Penulis ngopi bersama dr. Faturrachman

Hadir pula penulis muda yang juga tenaga pendidik Rapi dan Kepala Cabang Dinas Pendidikan wilayah III Wahyudi Himawan yang datang menyusul Datuk Asyraf Suryadin, koleganya.

Baca Juga  Bumi Laskar Pelangi Hari Ini: Antara Identitas, Tantangan dan Harapan

Kamis (27/2/2025) pagi, di saat matahari mulai menaiki kaki langit, bertemu dengan dokter muda asal Toboali yang sekarang mengabdikan diri di RSUD Junjung Behaoh dr. Faturrachman, dokter yang aktif menulis.

Ditemani segelas kopi hitam, obrolan kami berkutat soal rimba literasi dan buku.

Dan tentunya, kita berharap dokter muda Fatur akan menerbitkan buku dari berbagai tulisannya yang berserakan sebagai bagian dari peradaban masa depan negeri ini.

Seperti kata sastrawan besar Pramoedya Ananta Tur, orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.

Dan lanjut Pram, tulislah apa yang hendak engkau tulis.
Semua harus ditulis, apa pun. Jangan takut tidak dibaca atau tidak diterima penerbit. Yang penting, tulis, tulis, dan tulis. Suatu saat pasti berguna.

Baca Juga  Menjadi Perguruan Tinggi sebagai Institusi Sosial