Oleh: Herlian, S.Pd., Gr

Dalam filosofi bahasa Jawa guru memiliki makna digugu lan ditiru”.

Digugu artinya setiap perkataan dan perbuatannya harus bisa dipertanggungjawabkan, sedangkan ditiru artinya setiap sikap dan perbuatannya pantas untuk dijadikan tauladan bagi para siswa/i.

Seorang guru (pendidik) menjadi sebuah role model untuk mencerdaskan anak bangsa seperti filosofi Bahasa jawa. Guru dipandang secara umum adalah orang yang memberikan ilmu pengetahuan kepada anak didik.

Secara umum bisa diartikan seperti itu, tapi seorang guru tidak hanya memberikan pengetahuan (transfer knowledge) dan keterampilan semata. Seorang guru juga memberikan penanaman nilai-nilai dan prinsip hidup dalam kehidupan.

Seorang guru mendidik harus dengan hati dan pendekatan emosional. Mendidik juga harus dengan kesabaran dan kesungguhan. Mendidik juga butuh ketalentaan dan keteladanan. Mendidik juga harus dengan keramahan bukan dengan kemarahan.

Baca Juga  112 Guru Olahraga di Bangka Ambil Bagian Dalam KONI Goes To School 2022

Mendidik juga harus dengan cinta dan kasih sayang. Dengan demikian, tujuan pendidikan dapat terwujud secara efektif. Di samping itu, seorang guru harus menjadi pribadi yang dekat dengan Allah dan senantiasa mendoakan anak didiknya agar menjadi pribadi-pribadi yang salih baik personal maupun shaleh sosial. Karena Allah lah yang Zat yang maha mengubah segalanya.

Jangan sampai kita menempatkan diri kita sebagai guru itu seperti seorang raja. Kita tahu bahwa seorang raja memiliki segalanya seperti penguasa monarki di ruang kelas. Seluruh perkataannya dan titahnya harus dituruti dan tidak boleh dibantah.

Dan seluruh kebijakan dan keputusannya tidak boleh di ganggu gugat serta memiliki kekuasaan yang mutlak. Dan bahkan ada lebih parah lagi, seorang guru menganggap dirinya tidak pernah melakukan sebuah kesalahan sehingga tidak bisa disalahkan “the teacher never does wrong”.

Baca Juga  Kementerian PANRB: Formasi Tes CPNS Sebanyak 572.496, Dibuka September 

Kita sebagai guru harus banyak belajar, sebagai seorang muslim, ada salah satu manusia yang mulia menjadi suri tauladan kita yaitu Rasulullah Saw. Rasulullah Saw telah memberikan teladan yang baik dalam cara membina keluarga dan mendidik anak.

Rasulullah Saw sejatinya adalah manifestasi dari apa yang terkandung di dalam Al-Qur’an yang mulia sehingga Rasulullah Saw bukanlah teladan yang sembarangan. Beliau adalah suri teladan yang paling utama. Sebelum mencontoh manusia yang lainnya.

Salah satu metode yang diajarkan Rasulullah Saw dalam mendidik anak adalah metode Pendidikan Qur’ani. Dalam metode ini, pendidikan didasarkan pada nilai-nilai As-sunnah dan Al-Qur’an. Dalam Pendidikan Qur’ani anak dibentuk dalam tiga elemen Pendidikan yaitu fisik, mental dan spiritual.

Baca Juga  Dindik Bateng Gelar Pelatihan Talenta Berprestasi bagi Guru Olahraga dan Seni

Elemen Pendidikan fisik bertujuan untuk menunjukkan tingkah laku yang nyata, yakni berupa pengamalan ibadah sehari- hari. Sementara elemen pendidikan mental berkaitan dengan tingkat intelegensi anak dalam berpikir secara logis serta kritis.

Sementara itu, elemen pendidikan spiritual berkaitan dengan peningkatan kualitas keimanan yang ditunjukkan dalam akhlak yang berkualitas. Oleh karena itu kita bisa mencontoh cara mendidik anak yang dilakukan oleh Rasulullah Saw sebagai role model.