Mencari Sandal-Sandal yang Hilang
Oleh: Yudha Adinata, S.AP
Ketika awal Ramadan baru datang, suasana masjid atau musala mendadak lebih ramai dari hari-hari biasa. Orang tua, remaja bahkan anak-anak berbondong-bondong datang ke masjid untuk mengikuti salat berjemaah.
Suasana seperti hari itu biasanya hanya nampak pada saat salat Jumat saja. Namun dengan datangnya bulan Ramadan, suasana mendadak berubah. Ramai dibandingkan hari-hari di luar Ramadan. Subuh yang biasanya sepi mendadak lebih ramai.
Terlebih saat Salat Isya dan Tarawih. Jemaah membludak terkadang meluber sampai ke teras. Anak-anak dan remaja putri yang biasanya tidak pernah ke masjid pun nampak hadir. Entah itu memang benar-benar untuk salat atau sekadar bersenda gurau dengan teman-teman sebayanya.
Rasanya masjid saat itu kurang besar untuk menampung jemaah. Dan pemandangan di tangga masuk masjid pun begitu khas, sandal-sandal berserakan. Bahkan bertumpukan satu sama lain. Sehabis salat, masjid biasanya langsung sepi, selama Ramadan ada saja yang tinggal. Entah itu untuk membaca Al-Qur’an atau membaca buku-buku agama.
Kini Ramadan telah berjalan separuh bulan. Jemaah Masjid yang diawal Ramadan begitu membludak perlahan mulai berkurang.
Hal ini tak hanya berlangsung di masjid wilayah perkotaan tetapi juga di masjid perdesaan. Shaf-shaf mengalami kemajuan yang sangat berarti. Bukannya semakin bertambah, namun jemaahnya kian berkurang. Shaf pun semakin maju ke arah imam.
