Oleh: Pak Mo (Baharudin)

Bermunculan bak jamur tiram mulai berkembang biak menunjukkan bahwa dia bakal tumbuh dengan subur dan pada waktunya akan dipanen dan dikonsumsi.

Analogi itu menggambarkan betapa pada rentang waktu yang disediakan untuk pelaksanaan Pemilihan Umum Kepala Daerah ulang di Kabupaten Bangka dan Kota Pangkalpinang sebagai konsekuensi dari kemenangan kotak kosong pada Pemilukada 27 September 2024 yang lalu, sekarang mulai bermunculan figur-figur bakal calon kepala daerah.

Berlatar belakang dari berbagai latar belakang disiplin ilmu dan kalangan, sibuk dengan mencetak baleho menghunjam, menancap dan tegak berdiri di sudut-sudut  dan perempatan jalan  menampilkan sosok yang gagah dengan senyum yang ramah walau belum tentu  gagah dan ramah di dalam keseharian yang nyata.

Baca Juga  Pantai Tanjung Tinggi: Antara Keindahan Alam dan Tantangan Tata Kelola Pariwisata Berkelanjutan

Karena efek digital kerap menipu pandangan mata semisal wajah yang kurang mulus bisa disulap menjadi mulus. Wajah yang kehitaman bisa diubah menjadi putih bersih berkilau.

Sementara itu media sosial menjadi wadah yang dianggap sangat efektif untuk menampilkan diri, “Siapa saya, mau apa saya dan nanti pada waktunya pilihlah saya”.

Kunjungan langsung bertemu dengan masyarakat, keluarga dan handai taulan dibarengi dengan  memberikan bantuan sumbangan pembangunan rumah ibadah, membantu orang sakit, berbuka puasa bersama dan lain sebagainya, sebagai upaya mencari simpati serta untuk membangkitkan citra diri.

Dari premis di atas menggelitik hati dan menimbulkan pertanyaan dalam pemikiran. Apa sesungguhnya yang menarik hati, minat dan motif seseorang untuk bertanding seru dikancah Pemilihan Umum Kepala Daerah?

Baca Juga  Purbaya Yudhi Sadewa: Menteri “Koboy”, Curi Simpati Kelola Keuangan Negara

Tentulah pertanyaan yang menggelitik tersebut bermunculan satu demi satu sehingga menjadi point – point pertanyaan yang berurutan seperti: siapakah orang ini, apa latar belakangnya, mampukah dia, amanahkah dia, berapa banyak uangnya, seberapa besar pengalaman politiknya dan mungkin yang terakhir mampuhkah mereka untuk membangkitkan kembali kondisi keterpurukan ekonomi pasca paparan Covid-19  dan tata kelola niaga timah yang belum jelas juntrungannya di provinsi Bangka Belitung sejak terbongkarnya mega korupsi 300 triliun rupiah.

Khususnya di kedua daerah ini terutama dari sektor pendapatan daerah dan meningatkan fluktuasi perekonomi masyarakat yang lebih baik.

Begitulah fenomena menjelang dibukanya pendaftaran bakal calon kepala daerah di dua daerah ini sebagai sisa dari pelaksanaan Pemilihan Umum Kepala Daerah yang telah digelar secara serentak pada 27 September 2024 yang lalu dari 37 daerah yang bertarung melawan kotak kosong (kolom kosong).

Baca Juga  Meningkatkan Kemandirian Pendidikan melalui Platform Merdeka Mengajar