Oleh: Rustam Hadi, M.Pd dan Raudya Setya Wismoko Putri, M.Pd

Kurikulum Merdeka dicanangkan Kemendikbudristek sebagai bentuk respons dan pemecahan solusi atas kondisi pendidikan di Indonesia saat ini.

Salah satunya adalah terjadinya learning loss atau ketertinggalan pembelajaran (Sembiring et al., 2022). Kurikulum Merdeka yang sebelumnya disebut juga sebagai Kurikulum Prototipe telah dilincurkan pada tanggal 11 Februari 2022 oleh Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi.

Inti pada Kurikulum Merdeka adalah merdeka belajar, sehingga kurikulum ini akan berfokus pada kebutuhan siswa. Mengingat setiap individu (siswa) unik, maka tentu setiap siswa mempunyai bakat dan minat yang berbeda-beda.

Foto Dokumen Penulis

Kurikulum Merdeka ini akan memberikan peluang besar kepada siswa untuk mengembangkan bakat dan minatnya. Artinya siswa tidak harus dipaksakan untuk belajar sesuatu yang tidak diminatinya. Sehingga Kurikulum Merdeka memberikan peluang kepada setiap siswa untuk dapat mengasah bakat dan minatnya sejak dini.

Pada Kurikulum Merdeka ini telah disediakan juga platform merdeka mengajar yang dapat memberikan ruang bagi guru untuk belajar dan berbagi berbagai hal untuk kemajuan Pendidikan di Indonesia. Platform merdeka mengajar adalah platform teknologi yang disediakan untuk menjadi teman penggerak bagi guru dan kepala sekolah dalam mengajar, belajar, dan berkarya.

Baca Juga  Merdeka Belajar, Semangat Baru Wujudkan Pembelajaran Berdiferensiasi

Platform merdeka mengajar dibangun untuk menunjang penerapan Kurikulum Merdeka agar dapat membantu guru dalam mendapatkan referensi, inspirasi, dan pemahaman dalam menerapkan Kurikulum Merdeka. Pada platform tersebut terdapat beberapa tempat untuk guru berkreasi, yaitu: Asessmen Murid, Perangkat Ajar, Bukti Karya, Pelatihan Mandiri, Video Inspirasi dan Komunitas.

Hal tersebut kesemuanya diadakan sebagai wadah untuk berkreasi guru serta memperdalam pengetahuannya tentang Kurikulum Merdeka. Sehingga harapannya Kurikulum Merdeka dapat diimplementasikan dengan baik di semua jenjang pendidikan di Indonesia (mulai dari Paud, TK, Dasar, dan Menengah serta Pendidikan Tinggi).

Dengan menggunakan Kurikulum Merdeka perubahan sangat terasa di sekolah, guru lebih fleksibel untuk berkreasi dalam mengajar semaksimal mungkin, serta lebih mengetahui minat, bakat, kebutuhan dan kemampuan siswa (Rahayu et al., 2022).

Kompetensi dari seorang guru sudah barang tentu harus ditingkatkan agar sejalan dengan kodrat alam dan kodrat jaman. Dengan pekembangan jaman yang terjadi seorang guru haruslah berusaha untuk meningkatkan kompetensinya agar tidak ketinggalan dari perkembangan yang ada.

Baca Juga  Islam: Solusi Tuntas Atasi Bullying

Untuk pengembangan kompetensi yang dimiliki tidak hanya menunggu pelatihan dari pemerintah melainkan peningkatan kompetensi dapat dilakukan oleh guru itu sendiri, termasuk dengan menggunakan platform merdeka mengajar (PMM) secara Optimal.

Dalam meningkatkan kompetensi yang dimiliki, bisa dimulai dari hal-hal kecil yang dimulai dari dirinya sendiri, baik itu belajar melalui PMM, lingkungan dan mengikuti pelatihan atau diklat.

Dengan kompetensi yang dimiliki seorang guru dapat menciptakan suasana belajar yang inovatif dan menyenangkan, sehingga diperlukan ide-ide kreatif seorang guru dan kemauan untuk belajar dan berlatih, dengan ide-ide kreatif yang dimiliki seorang guru dapat merancang dan menginovasi pembelajaran baik itu didalam maupun di luar kelas agar lebih membahagiakan.

Pembelajaran yang bahagia dan menyenangkan merupakan salah satu filosofi pemikiran Ki Hajar Dewantara, dengan pembelajaran yang menyenangkan siswa akan merasa lebih nyaman ketika mengikuti pembelajaran.

Baca Juga  Dinamika Pelestarian Humpit Beduri

Dengan merancang pembelajaran yang menyenangkan akan mengurangi tingkat kebosanan dan kejenuhan siswa dalam belajar, sehingga sangatlah perlu kemampuan seorang guru di dalam melakukan inovasi-inovasi dalam pembelajaran, salah satunya dengan mengolaborasikan pembelajaran dengan permainan.

Inovasi ini dilakukan karena melihat perkembangan siswa itu sendiri, dimana siswa SMP merupakan masa peralihan dari masa anak- anak menuju masa remaja, sehingga tidak dapat dilepaskan dengan masa bermain. Dengan menginovasi pembelajaran dengan bermain dapat menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan siswa merasa leluasa ketika akan menjawab dan mengajukan sebuah pertanyaan, dengan menciptakan suasana seperti itu dalam belajar siswa dapat merasakan bahwa ia sedang belajar dengan keluarganya dan dapat mengganggap sekolah merupakan rumah kedua untuknya dalam belajar sehingga dapat mewujudkan merdeka belajar.

Adapun tujuan dari guru mempelajari PMM menurut penulis, yaitu sebagai berikut:

1. Agar dapat memahami pentingnya mengembangkan diri dalam rangka meningkatkan kompetensi yang dimiliki.