Kejujuran dan Validitas Data
Oleh: Pak Mo
Sering kita mendengar dalam keseharian baik dalam ajang acara debat, bincang-bincang warung kopi, forum-forum seminar terlebih dalam forum-forum resmi lainnya. Apalagi di lingkungan pemerintahan, orang kerap mengungkapkan atau melontarkan kata atau kalimat seperti, “Anda sebaiknya kalau berbicara mengungkapkan sesuatu harus berdasarkan data, harus didukung oleh data dan yang Anda sampaikan itu mana datanya.”
Sesungguhnya dalam momentum apapun itu yang namanya data merupakan suatu pertanggungjawaban yang didasari dari fakta yang ada.
Data, secara umum, adalah kumpulan fakta atau informasi mentah yang dapat berupa angka, simbol, kata-kata, atau citra yang digunakan untuk membuat keputusan, menganalisis situasi, dan memahami fenomena. Data ini dapat diolah dan dianalisis untuk mendapatkan pemahaman atau pengetahuan yang lebih mendalam.
Artinya sebuah fakta yang terjadi kemudian diinformasikan selanjut diolah menjadi sebuah data sebagai sebuah sumber yang dapat dipercaya untuk mengambil suatu keputusan.
Bayangkan saja jika suatu keputusan yang akan diambil tanpa didukung oleh data-data valid maka dipastikan sebuah keputusan itu akan tidak memiliki arah yang jelas dan akan menjadi ambigu.
Sebuah penelitian ilmiah pun jika tidak didukung oleh data yang akurat maka akan sulit bagi para peneliti untuk melakukan analisis dan memahami fenomena yang akan terjadi. Bahkan sering kita saksikan dalam debat-debat lintas agama pun para debater selalu memiliki dan dukungan data yang akurat dari sumber kitab suci masing-masing.
Singkat kata data adalah sebuah bentuk informasi yang menceritakan fakta yang sebenarnya terjadi, Lalu timbul pertanyaan, bagaimana kita mendapatkan data-sata tersebut?
Tentulah harus didapat dari sumber-sumber yang dapat dipercaya pula. Sementara itu data dapat berupa data statistik yang didapat berupa responden, benda, dokumen, sensus, survei, dan catatan administratif.
Kembali kepada validitas data yang akan digunakan untuk kepentingan apapun, maka kejujuran merupakan hal yang mutlak. Kejujuran dalam hal ini mengandung 2 aspek yang tidak bpleh dipungkiri.
Pertama: fakta yang terjadi kemudian diinformasikan sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya terjadi. Artinya antara fakta dan informan yang menyampaikan seiring sejalan.
Kedua: Fakta yang tidak terjadi dibuat seolah terjadi dan diinformasikan sehingga menjadi data. Sudah barang tentu datanya tidak valid bahkan cenderung bohong.
Intinya kejujuran dalam menyampaikan informasi dari fakta yang terjadi akan melahirkan data yang valid. Dan data tersebut dapat digunakan dalam berbagai program kegiatan dan penelitian.
Validitas data yang sering didapat dalam pelaksanaan program kegiatan di pemerintahan sering kita temui data-data yang meragukan disebabkan data–data tersebut dianggap sudah usang dan tidak pernah dilakukan pemutahiran data.
