Karya: Putri Simba

Di persimpangan senja, langkahku gemetar,
Dua jalan sama-sama bergetar.
Satu bercahaya di ruang kelas penuh asa,
Satu menari di berita, membelah kata.

Aku sang Putri Simba, bukan dongeng yang bahagia,
Di pundakku mimpi, tapi juga luka.
Guru, cita mulia membentuk jiwa,
Wartawan, cahaya yang membongkar fakta.

Aku menangis diam-diam di ujung malam,
Menulis puisi di sela tangis yang dalam.
Sebab takada yang lebih menyakitkan,
Selain memilih… lalu kehilangan.

Di tengah badai sunyi, aku berjalan,
Berjalan di dua langit yang tak saling mengerti.
Satu langit adalah kampus impian,
Tempat kutanam mimpi jadi wartawan.

Baca Juga  Nasihat Mulia sang Guru