Hari Kartini 21 April 2025: Perempuan Bangka Belitung dan Perjuangan Melawan Krisis Lingkungan
Oleh: Dr. Fitri Ramdhani Harahap, M.Si
Hari Kartini, yang diperingati setiap 21 April, merupakan momen penting untuk merefleksikan perjuangan emansipasi perempuan di Indonesia. Di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, semangat Kartini masih relevan, mengingat tantangan dan kemajuan yang dihadapi perempuan di era modern ini.
Di tengah krisis lingkungan yang kian mendalam, perempuan Bangka Belitung turut berperan dalam memperjuangkan kelestarian alam, sekaligus memperkuat posisi mereka dalam berbagai sektor kehidupan. Seiring dengan peran mereka yang semakin signifikan dalam pendidikan, ekonomi, dan politik, perempuan di daerah ini tidak hanya berjuang untuk hak-hak mereka, tetapi juga untuk melindungi dan melestarikan lingkungan yang menjadi sumber hidup.
Analisis Sosiologis: Struktur Sosial dan Perubahan Sosial
Sosiologi Emile Durkheim mengemukakan bahwa masyarakat terdiri dari berbagai bagian yang saling bergantung satu sama lain. Struktur sosial ini berfungsi untuk menciptakan kestabilan dalam masyarakat. Dalam konteks emansipasi perempuan di Bangka Belitung, kita bisa melihat bagaimana peran perempuan dalam masyarakat telah mengalami perubahan yang signifikan.
Misalnya, keterlibatan perempuan dalam pendidikan dan ekonomi semakin meningkat, yang secara langsung mengubah posisi sosial mereka dalam struktur masyarakat. Jika kita melihat pada sektor ekonomi, semakin banyak perempuan yang terlibat dalam usaha kecil dan menengah (UKM) serta sektor pariwisata yang berbasis pada potensi lingkungan.
Hal ini memberikan kontribusi pada perekonomian daerah sekaligus membuka kesempatan bagi perempuan untuk berperan lebih besar dalam pengambilan keputusan yang berhubungan dengan kelestarian lingkungan.
Dalam konteks ketimpangan gender, perubahan dalam peran perempuan di Bangka Belitung dapat memengaruhi struktur sosial yang ada. Meningkatnya partisipasi perempuan dalam sektor-sektor yang berhubungan dengan lingkungan, seperti ekowisata dan pertanian organik, berhadapan dengan norma tradisional yang membatasi peran perempuan hanya pada kegiatan domestik.
Oleh karena itu, peningkatan partisipasi perempuan ini dapat dilihat sebagai salah satu faktor yang mempercepat perubahan struktur sosial.
Teori Perubahan Sosial Karl Marx menekankan bahwa perubahan dalam struktur ekonomi, terutama yang terkait dengan hubungan produksi, akan membawa perubahan dalam struktur sosial dan relasi kekuasaan.
Dalam konteks emansipasi perempuan, perubahan ekonomi yang terjadi dapat membuka ruang bagi perempuan untuk lebih terlibat dalam kegiatan yang berhubungan dengan pengambilan keputusan, terutama di sektor yang berkaitan dengan kelestarian lingkungan.
Sebagai contoh, semakin meningkatnya kesadaran akan pentingnya perlindungan lingkungan hidup di Bangka Belitung yang kian terancam oleh kegiatan pertambangan timah, perempuan dapat memainkan peran kunci dalam mempengaruhi kebijakan publik yang lebih ramah lingkungan.
Kehadiran perempuan dalam sektor ekonomi yang berkelanjutan, seperti pertanian organik atau pengelolaan sampah, akan membawa dampak yang lebih besar dalam mengubah relasi kekuasaan yang ada, memperjuangkan hak-hak perempuan, serta melestarikan lingkungan.
Ketimpangan Gender dan Partisipasi Perempuan dalam Menyelamatkan Lingkungan
Berdasarkan data yang ada, Indeks Ketimpangan Gender (IKG) di Bangka Belitung memang menunjukkan penurunan yang positif, dari 0,497 di tahun 2022 menjadi 0,490 pada tahun 2023.
Meskipun demikian, ketimpangan gender masih menjadi isu penting yang perlu diperhatikan. Perempuan di Bangka Belitung, meskipun semakin banyak yang berpartisipasi dalam pendidikan dan pasar tenaga kerja, masih terhambat oleh pembatasan budaya dan sosial yang membatasi peran mereka dalam pengambilan keputusan, terutama dalam hal kebijakan publik yang melibatkan lingkungan.
Namun, data menunjukkan bahwa perempuan mulai menunjukkan eksistensinya dalam berbagai sektor yang berkaitan dengan lingkungan, seperti dalam pengelolaan ekosistem pesisir dan hutan yang dapat mendukung keberlanjutan alam di Bangka Belitung.
