Karya: Yoelchaidir

Masih terngiang di telinga istri mang Dika. Kata kata yang dilontarkan seseorang tempo hari saat mang Dika berselisih faham tentang batas lahan kebun mereka.

Seseorang telah mencaplok lahan kebun milik mang Dika yang masih berupa hutan kecil berbatasan dengan kebun yang belum sempat digarap mang Dika.

“Kelak Ka ngitung kasau hebile ku dak kawa agik.”

Kata kata itu lah yang selalu terngiang di telinga istri Mang Dika semenjak suami tercinta yang saat ini sudah memasuki hari ke-19 hanya bisa terbaring di kasur dalam sebuah kamar. Matanya hanya bisa melihat ke atap atap rumah yang belum di plafon sehingga kasau kasau rumah masih tampak jelas terlihat.

Baca Juga  Gelap Terang

Sudah berulang kali mang Dika dibawa ke rumah sakit untuk berobat dan secara medis.

Ia sudah divonis tidak ada penyakit yang bersemayam dalam tubuhnya.

Karena sudah dicek darah pun tidak ada penyakit apapun yang terdeteksi secara medis.

Dengan segala usaha malam itu istri mang Dika meminta seorang dukun kampung untuk datang ke rumah melihat keadaan suaminya.

Kian hari tubuhnya kian kurus dengan perut semakin membesar dan warna kulit perlahan menghitam.

Setelah melakukan ritual secara kebatinan sang dukun kampung dengan suara berat dan keringat yang bercucuran mulai berbicara di hadapan  istri mang Dika.

Semua yang dilontarkan sang dukun persis dengan apa yang di alami mang Dika saat ini dan sebelum mang Dika sakit.

Baca Juga  Di Ujung Bara

Istri mang Dika pun menyadari apa yang terjadi adalah sebab akibat dari perselisihan mang Dika dengan seseorang yang telah mencaplok lahan kebun mereka.

Malam itu mang Dika diberi segelas air jampi dari sang dukun dan diasapi dengan kemenyan yang ditaburi di sebuah wadah berisi bara api.