Langit Menyambutnya, Dunia Belajar darinya (Bagian 3)

Oleh: Muhammad Bachtiyar — Pengajar di Pondok Pesantren Qur’an CAHAYA

Di malam kelahirannya, alam seolah menyambut Sang Nabi. Angin berembus lembut, bintang bersinar terang, dan hati orang-orang yang mencintainya terasa lapang.

Seorang bayi telah lahir ke dunia, membawa cahaya dan kasih yang kelak akan menyentuh seluruh umat manusia. Muhammad bin Abdullah.

Meski terlahir dalam kondisi yatim, beliau tidak pernah kekurangan cinta. Kehangatan dari orang-orang di sekitarnya mengalir, bahkan dari mereka yang kelak menolak dakwahnya.

Kelahiran beliau menjadi peristiwa yang tak hanya menggembirakan keluarga, tapi juga memberi isyarat akan perubahan besar bagi peradaban.

Salah satu saksi kelahiran Rasulullah SAW saat itu adalah Tsuwaibah, budak perempuan milik Abu Lahab. Ia berlari membawa kabar gembira: “Abdullah telah mendapatkan seorang anak laki-laki!” Mendengar kabar itu, Abu Lahab begitu senang hingga membebaskan Tsuwaibah sebagai bentuk ekspresi kebahagiaannya.

Baca Juga  Belajar dari Kisah Nabi Yusuf (Bagian 27): Ujian Kedua dalam Rumah yang Sama

Uniknya, berkat apa yang ia lakukan ini, dalam riwayat sahih disebutkan: “Abu Lahab diringankan siksaannya setiap hari Senin karena pada hari itu ia memerdekakan Tsuwaibah saat mendengar kabar kelahiran Rasulullah SAW.” (HR. al-Bukhari secara mu‘allaq)

Subhanallah, jika seorang yang kemudian tercatat dalam sejarah sebaagai sebagai salah satu orang yang paling keras memusuhi Rasul SAW dalam berdkawah saja bisa mendapat keringanan karena menampakkan kebahagiaan atas kelahiran beliau, maka bagaimana dengan kita yang beriman dan mencintai Nabi dengan sepenuh hati?

Menampakkan Cinta kepada Rasulullah SAW