Oleh: Rahma Fajriyati – Mahasiswa Universitas Bangka Belitung

Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) tengah menunjukkan geliat kebangkitan ekonomi setelah tahun 2024 yang penuh tantangan. Data terbaru mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 4,60% pada triwulan I 2025 (year-on-year), jauh membaik dibanding tahun sebelumnya yang hanya tumbuh 0,77%.

Pemulihan ini tentu patut disambut positif, namun di saat yang sama menjadi momentum reflektif: akankah Babel terus menggantungkan nasibnya pada sektor pertambangan, atau mulai berani membangun ekonomi yang lebih beragam dan berkelanjutan?

Selama puluhan tahun, timah menjadi tumpuan utama perekonomian Babel. Ketika harga global naik, daerah ini menikmati pertumbuhan.

Sebaliknya, ketika pasar timah goyah, Babel pun ikut terseret. Kontraksi sektor pertambangan dan industri pengolahan yang terjadi pada 2024 adalah sinyal jelas bahwa ketergantungan ini sangat berisiko.

Baca Juga  Timah Pengaruhi 60 hingga 70 Persen Ekonomi Bangka Belitung

Meski pada awal 2025 sektor ini tumbuh 12,22%, terutama karena meningkatnya permintaan bijih logam, bukan berarti kita boleh lengah dan kembali mengandalkan komoditas yang sama tanpa strategi jangka panjang.

Syukurlah, pemerintah daerah menunjukkan langkah-langkah progresif. Diversifikasi ekonomi kini menjadi kata kunci pembangunan di Babel.

Program Semangat Menanam Rakyat Bangka Belitung (SEMARAK BABEL) dan Hijau Biru Babelku merupakan wujud nyata komitmen untuk memperkuat sektor pertanian, perikanan, pariwisata, dan ekonomi kreatif—sektor-sektor yang lebih ramah lingkungan, berpotensi menyerap tenaga kerja, dan tidak mudah terpengaruh gejolak global.

Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan sendiri mencatat pertumbuhan 2,01% pada triwulan I 2025. Karet dan hasil perikanan menjadi dua komoditas yang terus tumbuh. Sementara itu, lonjakan ekspor hingga 87,86% (year-on-year) di periode yang sama—terutama melalui timah, CPO, karet, dan produk perikanan—menunjukkan bahwa Babel masih memiliki daya saing tinggi di pasar internasional.

Baca Juga  RRI: Dari Gelombang Udara ke Gelombang Digital, Dari Monolog ke Dialog