Menulis di Ujung Jari, Menangis di Ujung Malam

Oleh: Putri Simba

Angin malam menyusup perlahan lewat celah-celah jendela kamar yang sunyi, gelap gulita. Di kursi tua berwarna kuning, selembar kertas terhampar. Ujung bolpoin bekas yang tinta hitamnya mulai berangsur pudar, bergelut dengan kertas itu, menuliskan bait-bait harapan dalam bias luka yang terus dirasakan.

Di malam itu, ada seorang gadis dari keluarga sederhana yang tengah duduk termenung sendirian. Dia membuka buku catatan kecil lalu menuliskan ungkapan hatinya.

“Tiga tahun bukanlah waktu yang singkat. Banyak sekali ujian yang aku hadapi selama ini, tetapi hari ini, mengapa pena ini terasa berat? Padahal menulis adalah jiwa dan hatiku,” tulis Dinda di buku catatan diary miliknya.

Baca Juga  Kepala Sekolahku

Kata-kata yang tertulis itu begitu membuatnya benar-benar sedih. Air mata terus mengalir membasahi pena yang dipegangnya saat menulis tadi. Namun, di saat itu, terdengar suara ketukan pintu yang ternyata itu adalah ibundanya sendiri. segera dihapusnya air mata itu.

“Dinda sayang, apakah kamu belum tidur?” tanya sang Ibu.

“Iya, Bu, bentar lagi,” sahut Dinda.

Krek!
Sang ibunda membuka pintu kamar putrinya itu dan langsung masuk ke kamarnya. Bunda kebingungan mengapa putrinya itu termenung sendirian di gelap gulita yang duduk di pinggir jendela.

“Nak, Ibu perhatikan dari tadi kamu melamun terus. Kamu kenapa, Nak? Apakah kamu baik-baik saja?” tanya ibunda Dinda.

“Tidak, Bu, aku tidak kenapa-napa, kok, hanya lihatin bintang di langit saja,” sahutnya sedikit berbohong, karena tidak ingin ibunya mengetahui jika ia sedang memikirkan sesuatu.

Baca Juga  Dia yang Tak Pernah Mati

“Kalau begitu, sekarang cepat tidur, ya, besok kan kamu harus sekolah,” kata ibunda.

“Baik, Bu,” sahutnya singkat.

Klak!
Sang ibunda mematikan lampu kamar lalu meninggalkan putrinya itu sendiri. Satu menit kemudian, setelah ditinggalkan Ibunda pergi, Dinda masih juga belum tidur. Ia masih terus termenung di jendela kamarnya itu.