Tangisan Diam Teringgiling Bangka Belitung: Sebuah Seruan Hati untuk Selamatkan Permata yang Terlupakan
Tangisan Diam Teringgiling Bangka Belitung: Sebuah Seruan Hati untuk Selamatkan Permata yang Terlupakan
Oleh: Zul Akbar — Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung
Dipelukan hijau Bangka Belitung, di antara gugusan granit raksasa yang menjulang dan rimbunnya belukar hutan, ada sebuah nyawa yang diam-diam merana.
Ia adalah trenggiling (Manis javanica), sang “pengguling” yang pemalu, makhluk bersisik yang seolah ditarik dari lukisan dongeng. Namun, keunikan parasnya dan gerakannya yang lembut menyembunyikan sebuah kisah pilu, sebuah perjuangan pahit di ambang kepunahan.
Ini bukan sekadar catatan tentang fauna lokal; ini adalah jeritan batin dari bumi Serumpun Sebalai, sebuah undangan tulus untuk merasakan duka, dan panggilan mendesak untuk bertindak sebelum semuanya sirna.
Bayangkanlah sejenak: sebuah makhluk yang tubuhnya diselimuti zirah keratin, menjadikannya siluet misterius di bawah rembulan. Dengan lidah panjang yang lentur, ia adalah penjaga malam hutan, penangkap ribuan semut dan rayap—pahlawan tak terlihat yang menjaga keseimbangan alam.
Trenggiling adalah jantung yang berdetak di dalam hutan kita, barometer sunyi yang memberitahu kita: selama ia masih ada, hutan kita masih bernapas, masih hidup.
Namun, di balik keanggunan alaminya, trenggiling menghadapi neraka. Mereka adalah korban bisu dari keserakahan manusia, mamalia yang paling banyak dijarah di seluruh dunia. Dagingnya dianggap hidangan mewah yang memuaskan nafsu sesaat, sisiknya digembar-gemborkan sebagai obat mujarab yang tak terbukti secara ilmiah.
Di balik mitos dan ilusi itu, ada darah dan air mata. Di Bangka Belitung, desingan jerat, jebakan keji, dan transaksi haram bukanlah cerita dongeng belaka; itu adalah realitas pahit yang setiap malam mengancam nyawa-nyawa tak berdosa ini.
Para pemburu, terdesak himpitan hidup atau terbutakan oleh janji keuntungan semu, memanfaatkan sifat polos trenggiling yang menggulung diri saat ketakutan—sebuah pertahanan diri yang tragisnya justru menjadi kunci kematian mereka. Hati siapa yang tak miris melihat ini?
Rumah yang Robek, Harapan yang pudar nestapa trenggiling tak hanya soal perburuan kejam. Rumah mereka kini hancur berkeping-keping, dirobek paksa oleh laju pembangunan, kebun sawit yang merambah, dan deru tambang timah yang tak kenal ampun.
Hutan-hutan yang dulu luas dan teduh, kini terpecah, terisolasi. Bayangkan, hidup dalam ketakutan, mencari makan di antara puing-puing, terputus dari kawanannya, tak mampu menemukan pasangan. Setiap inci lahan yang hilang adalah satu detik lebih dekat menuju kepunahan, satu tetes air mata yang jatuh dari mata trenggiling yang tak terlihat.
Kisah pilu trenggiling Bangka Belitung adalah cerminan betapa rapuhnya janji-janji konservasi kita. Status mereka sebagai “Kritis (Critically Endangered)” sebuah lonceng kematian yang berdering keras seolah hanya menjadi catatan di atas kertas, bukan bara api yang membakar semangat tindakan.
