KKN: Antara Pengabdian atau Formalitas Belaka?
KKN: Antara Pengabdian atau Formalitas Belaka?
Oleh: Bayu Victora — Mahasiswa IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung
Kuliah Kerja Nyata (KKN) dulunya dirancang sebagai salah satu wujud Tri Dharma Perguruan Tinggi — khususnya pada aspek pengabdian kepada masyarakat.
Mahasiswa diterjunkan langsung ke lapangan, tinggal di tengah warga, dan diharapkan bisa membawa perubahan melalui pendekatan keilmuan yang dimiliki. Namun, dalam praktiknya hari ini, KKN seolah hanya menjadi agenda tahunan yang kehilangan ruhnya.
Kegiatan Seremonial yang Minim Manfaat
Alih-alih memberi solusi nyata, mahasiswa datang membawa program “template” seperti lomba anak-anak, senam pagi, pengecatan pos ronda, dan seminar motivasi yang tidak relevan dengan kebutuhan masyarakat. Program-program ini terkesan dipaksakan agar cepat selesai dan mudah dilaporkan — bukan karena benar-benar dibutuhkan oleh warga.
Padahal, masyarakat desa memiliki berbagai persoalan nyata yang jauh lebih kompleks. Mulai dari masalah pertanian, sanitasi, gizi anak, pengelolaan UMKM, hingga literasi digital. Sayangnya, kebutuhan ini jarang dipetakan secara serius oleh pihak kampus maupun mahasiswa.
Mahasiswa pun Kehilangan Tujuan
KKN juga semestinya menjadi ruang belajar karakter: melatih empati, kolaborasi, dan kepekaan sosial. Tapi apa yang terjadi? Banyak mahasiswa justru lebih sibuk membuat konten media sosial ketimbang membangun relasi sosial. Konflik internal dalam kelompok, keluhan soal fasilitas, dan minimnya partisipasi menjadi masalah rutin setiap tahun.
Fenomena ini memperlihatkan bahwa KKN tidak lagi menjadi ruang pembentukan watak, melainkan hanya formalitas akademik untuk menggugurkan SKS.
Kampus Tidak Boleh Lepas Tangan
Kesalahan tidak hanya berada pada mahasiswa. Kampus sebagai penyelenggara juga ikut bertanggung jawab. Lemahnya sistem pembekalan, minimnya pengawasan lapangan, serta evaluasi yang hanya fokus pada laporan tertulis menjadi bagian dari masalah struktural.
