(Buat dr. Rosa)

Oleh: Hening Cahaya

Seperti yang tercatat di langit langit impian.
Ada yang terlupakan, setelah 17 tahun saling diam tak menyapa.
Apalagi tatap muka.
Sungguh kehilangan jejak peristiwa.
Semua hilang, tinggal nyanyian pelipur lara lirih menggema tanpa nada jelas.
Begitu lemah aksara aksara yang kita goreskan waktu itu, pada langit langit malam.
Pada gemerlap bintang-bintang, silau menyakitkan mata bathin.
Sementara malampun menggeliat, menggetarkan ranting-ranting kering gemertak menembus kekosongan jiwa.
Nyaring bunyinya, memecah lamunan pada kerinduan yang semakin dalam.

Masih ingatkah waktu itu pada bulan Ramadan.
Saat kau masih berseragam putih abu-abu.
Kadang kita meluangkan waktu menatap turunnya senja di antara debur ombak.
Pada pasir pasir bibir pantai berisik.
Pada kenakalan angin yang membuat belingsatan batin. Kitapun diam tanpa kata-kata dan saling pandang, rasanya susah menangkap bahasa alam.

Baca Juga  5 Contoh Puisi Perpisahan Sekolah yang Menyentuh Hati