Eko Telah Pergi, namun Mimpi-Mimpinya Tetap Tinggal di Bumi Serumpun Sebalai

Oleh: Yan Megawandi — Ketua Asosiasi Tradisi Lisan dan Pemerhati Budaya Bangka Belitung

Sekitar pukul 00.35 WIB, dini hari 30 Juli 2013, langit Bangka Belitung seolah kehilangan satu bintang yang paling terang. Di RS MMC Jakarta, Lili, begitu ia akrab disapa di kampung halamannya, menutup mata untuk selama-lamanya. H. Eko Maulana Ali, Gubernur Kepulauan Bangka Belitung, telah berpulang. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Ini merupakan peristiwa 12 tahun silam yang terasa masih lekat diingatan.

Ucapan duka mengalir deras dari berbagai penjuru negeri. Mantan Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla, bahkan langsung menyampaikan rasa kehilangannya melalui akun Twitter. Namun, duka yang paling dalam terasa di hati rakyat Kepulauan Bangka Belitung, mereka yang mengenal Lili bukan hanya sebagai pemimpin, tapi juga sebagai saudara, sahabat, dan penjaga mimpi.

Lili bukan tokoh biasa. Ia adalah tokoh yang memikul sejarah, yang menuliskan masa depan dengan keyakinan dan keteguhan hati. Lahir di Kelapa, Bangka Barat, 26 September 1951, ia tumbuh sebagai anak kampung dengan semangat besar dan mimpi tinggi.

Ia bukan hanya berhasil menjadi teknokrat dengan gelar DR. Ir. Eko Maulana Ali, MSc dari Flinders University, Australia, tapi juga menjadi negarawan yang jejaknya dalam membangun negeri akan terus hidup di ingatan banyak orang.

Baca Juga  Pascaperceraian: Tanggung Jawab Nafkah bagi Perempuan dan Anak

Satu babak paling heroik dalam hidup Eko Maulana Ali terjadi jauh sebelum ia menjadi gubernur. Tahun-tahun akhir 1990-an, ketika suara reformasi menggema di penjuru nusantara, ia justru sedang mengawal sebuah perjuangan sunyi: memperjuangkan lahirnya Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Di sinilah sejarah mencatatnya sebagai tokoh berani, seorang Bupati Bangka yang bersuara lantang menyuarakan kemandirian wilayahnya, bahkan ketika ia sendiri berada dalam posisi yang penuh risiko.

Bayangkan: di satu sisi, ia adalah pejabat daerah, Bupati Bangka, yang secara struktural adalah bawahan Gubernur Sumatera Selatan saat itu, Laksamana Muda TNI AL Rosihan Arsyad. Sementara Eko sendiri berpangkat kolonel TNI AL.

Hubungan militer ini bukan sekadar formalitas, tapi sarat tata krama dan hierarki yang dipegang kuat dalam budaya TNI. Namun Eko Maulana Ali tahu, ini bukan soal pribadi atau jabatan. Ini soal keadilan sejarah dan martabat masyarakat di pulau-pulau timah ini.

Ia memilih jalan yang tak nyaman: mendobrak tembok kejumudan birokrasi, melawan angin politik pusat, dan menghadapi tekanan dari struktur yang lebih tinggi.

Baca Juga  Partai Pengemis Nusantara

Ia mengumpulkan kekuatan moral bersama tokoh-tokoh daerah lain: Sofyan Rebuin di Pangkalpinang dan Ishak Zainudin di Belitung. Mereka membangun simpul-simpul perjuangan di tengah keraguan dan sikap ragu-ragu sebagian elit lokal yang takut melawan arus.

Lili tak takut. Ia tahu, sebuah provinsi baru tak bisa dibangun hanya dengan proposal dan angka-angka. Ia harus diperjuangkan dengan keteguhan hati dan keyakinan politik. Ia harus dibakar dalam bara pengorbanan.

Ketika banyak yang memilih diam demi kenyamanan jabatan, Lili justru bergerak. Ia keliling, bicara, meyakinkan rakyat dan elit nasional. Ia tidak sekadar mengajukan konsep, ia membawa semangat. Dan akhirnya, sejarah berpihak kepada yang berani. Tahun 2000, Kepulauan Bangka Belitung resmi menjadi provinsi ke-31 di Indonesia.

Salah satu peristiwa heroik yang akan selalu dikenang ialah Ketika Eko mengerahkan sebuah kapal perang untuk mengangkut ratusan masyarakat yang merupakan para pejuang pembentukan provinsi Bangka Belitung berangkat menuju Jakarta di Pelabuhan Tanjung Gudang Belinyu. Berlayar selama sekitar 28 jam meraka mendarat di Lantamal Jakarta.

Itulah Lili: ia tahu kapan harus hormat, tapi juga tahu kapan harus tegak. Ia menjunjung tinggi etika militer, tapi juga tak ragu berdiri demi rakyat dan pengembangan kemajuan daerahnya.

Baca Juga  Fenomena Tambang Nikel di Raja Ampat: Ancaman Konservasi dan Pariwisata Indonesia

Setelah provinsi berdiri, Lili tidak berhenti bermimpi. Ia melanjutkan perjuangan bukan dengan retorika, tapi kerja nyata. Ketika terpilih sebagai Gubernur pada tahun 2007, ia membawa semangat reformasi birokrasi lokal. Ia tahu tantangan tidak mudah: infrastruktur terbatas, kualitas pendidikan dan kesehatan yang masih tertinggal, dan masyarakat yang masih menggantungkan hidup pada tambang yang makin tua.

Ia memilih jalan pembangunan yang lebih berkelanjutan. Pariwisata mulai digarap serius. Investasi digerakkan, tapi dengan panduan tata ruang. Lili juga memperkuat sumber daya manusia, sebab ia yakin, tidak ada pembangunan tanpa manusia yang unggul.

Dan yang paling menyentuh: di saat sakit pun, ketika tubuhnya melemah karena gagal ginjal sejak Februari 2013, ia tetap menolak pergi ke luar negeri untuk berobat.

“Biar di dalam negeri saja,” begitu keyakinannya. Sebab ia ingin membuktikan: Indonesia punya dokter hebat. Ia percaya pada anak bangsa. Dan bahkan di saat menjelang akhir hayatnya, ia masih sempat menitipkan pesan kepada Wakil Gubernurnya, Rustam Effendi untuk meneruskan perjuangan.