Kini, tubuh itu telah terbujur kaku. Ia kembali ke tanah kelahirannya dalam sunyi dan haru. Tapi warisan gagasan dan perjuangannya tak pernah benar-benar pergi.

Kepulauan Bangka Belitung masih terus menunggu lahirnya pemimpin-pemimpin besar, yang tak hanya mengejar kuasa tapi membawa visi, membangun bukan untuk masa jabatan, tapi untuk masa depan. Pemimpin yang punya keberanian seperti Lili, untuk menolak nyaman demi idealisme, untuk berdiri di depan saat badai, dan melangkah ke belakang saat rakyat bersuka cita.

Kita semua rakyat Bangka Belitung adalah anak-anak dari warisan perjuangan itu. Adalah kewajiban kita kini untuk menjaga api yang ditinggalkan Lili, agar terus menyala, membakar semangat kita membangun negeri.

Sebab mimpi-mimpi Lili, sejatinya belum selesai. Mimpi-mimpi itu kini ada di tangan kita.

Selamat jalan, Lili. Alam Bangka Belitung akan merindukanmu. Tapi sejarah telah menulis namamu dengan tinta kehormatan: sebagai putra terbaik Bumi Serumpun Sebalai Negeri Laskar Pelangi.

Baca Juga  Menjemput Fajar Peradaban Baru: Melampaui Hegemoni, Zionisme dan Egoisme 'Strongman'

Kepulauan Bangka Belitung, tanah kepulauan yang dilingkari laut, diteduhi langit biru, dan disapa mentari dari ufuk timur adalah anugerah. Tuhan telah terlalu murah hati memberikan kita pulau-pulau yang indah, laut yang kaya, tanah yang subur, dan langit yang luas untuk bermimpi. Kekayaan budaya, harmoni keberagaman, dan semangat gotong royong yang masih menyala. Semua itu adalah rahmat yang tak terukur.

Maka tak ada alasan untuk tidak bersyukur. Bersyukur bukan sekadar ucapan, tapi tindakan. Bersyukur adalah menjaga yang ada dan memperbaiki yang rusak. Bersyukur adalah meneruskan perjuangan, bukan membiarkannya membeku jadi kenangan.

Mari kita tundukkan kepala sejenak. Kita doakan para pejuang yang telah mendahului, termasuk Lili atau H. Eko Maulana Ali agar mereka mendapat tempat terbaik di sisi-Nya, tempat yang tenang dan lapang, tempat yang abadi. Dan kepada mereka yang masih setia berjalan di jalur pengabdian, kita mohonkan kemudahan dan kemuliaan. Sebab di depan, jalan belumlah lapang.

Baca Juga  Keteladanan Membaca dan Menulis

Kerusakan lingkungan masih menganga. Masalah sosial dan ekonomi datang silih berganti. Pengembangan wilayah menuntut strategi yang cerdas, dan ketangguhan hati yang tak mudah goyah. Kita butuh pemimpin yang berpikir jauh dan bertindak dekat. Yang tak hanya bisa berkata, tapi juga bersedia berkeringat. Yang tak takut gelap, karena ia membawa pelita dari syukur.

Seperti syair yang pernah ditulis Eko Maulana Ali dalam gurindamnya:

Syukur itu pandai berterima kasih

Atas segala pemberian Illahi Robbi…”

Dan ia mengingatkan kita, bahwa “jika kita pandai bersyukur, rahmat Allah selalu terkucur, jumlahnya tidak terukur, hidup akan menjadi makmur.”

Itulah jalan kita. Jalan syukur dan perjuangan. Di tanah yang telah diwariskan oleh para tokoh besar ini, kini giliran kita menanam, memelihara, dan memanen harapan.

Baca Juga  Ketika Satwa Liar Muncul di Permukiman: Bencana Mengintai di Belakang Rumah

Bangka Belitung harus terus menjadi tanah yang bersyukur. Tanah yang menjaga warisan, memelihara mimpi, dan melahirkan pemimpin-pemimpin baru yang tak hanya pandai berkata, tapi juga sedia berbuat. Insyaallah.

Syukur 

Syukur itu pandai berterima kasih
Atas segala pemberian Illahi Robbi
Yang Maha Penyanyang dan Maha Pengasih
Dunia akhirat jadi berseri

Kalu kita pandai bersyukur
Rakhmat Allah selalu terkucur
Jumlahnya tidak terukur
Hidup akan menjadi makmur
Apabila kita kufur nikmat
Setiap hari berbuat maksiat
Hidup kita akan terlaknat
Dunia akhirat tidak selamat

Syukur pertama kepada Tuhan
Syukur kepada orang tua jangan lupakan
Agar amal dapat disempurnakan
Jannatul Na’im jadi kenyataan
Insyaallah..

Dikutip dari H Eko Maulana Ali: Gurindam Abad 21, Berkelana di Padang Fana, penyelaras Eddy Jajang Jaya Atmaja, September 2005