Oleh: Iyek Aghnia — Penulis yang Tinggal di Toboali

“Paling tidak, besok malam, kité pacak ngulon budak mudé sekaban, agar kerények nulis, ok,”

Demikian ajakan Budayawan Bangka Belitung Willy Siswanto yang ditulisnya dalam perbincangan di grup WhatsApp Rembug Budaya Babel, Jumat (5/8/2025) sore.

Ajakan istimewa itu lantas dijawab dengan stiker emoji Siap Pak Komandan oleh Budayawan Yan Megawandi.

Tentu saja, perbincangan dua dedengkot budaya dan penulis Serumpun Sebalai dalam grup WhatsApp Rembug Budaya Babel sore itu amat membahagiakan hati penulis.

Keinginan mulia para tokoh yang sudah malang melintang dalam dunia kepenulisan di negeri ini untuk mengajak orang muda menulis menebarkan asa yang menggembirakan.

Baca Juga  Penetapan Tujuan Perencanaan Formal Sebagai Standar Pokok dalam Organisasi

Seperti kata Denny JA menulis bukan untuk pasar semata, tapi untuk warisan spiritual dan budaya.

Menulis adalah upaya untuk memberikan sumbangan pemikiran kepada peradaban zaman untuk para pewaris masa depan bangsa, walaupun terasa kecil.

Sebagaimana yang diungkapkan Paulo Coelho menulis berarti berbagi, yang merupakan bagian dari kondisi manusia untuk ingin berbagi sesuatu pemikiran, ide, dan pendapat.

Soal kurangnya perhatian dan rendahnya penghargaan baik dari pemerintah maupun masyarakat terhadap karya penulis, itu soal lain lagi.