Karya: Hikmatul Aulia – Siswa SMAN 1 Toboali

Terima kasih untuk goresan yang pernah ada di lembar cerita ini.

Kelana tersenyum ketika mendapati potret seorang gadis di halaman salah satu akun instagram. Cantik sekali, bahkan mungkin lebih dari itu.

Namun setelah itu, senyum kekaguman yang awalnya menghiasi wajahnya memudar tergantikan oleh rasa getir yang selama ini tak pernah ia akui, ketika menyadari bahwa halaman itu dulu pernah penuh dengan segala hal tentang nya.

Toboali, 2023. Kelana ingat sekali ketika namanya tercantum dalam daftar kandidat peserta OSN matematika. Senyumnya  merekah seketika, setelah beberapa seleksi ia lewati, akhirnya dia bisa mewakili sekolah untuk OSN tahun ini.

Bagi Kelana kesempatan ini bukan hanya untuk mendapat prestasi di bidang akademik, namun Kelana harap jika ia berhasil, ia bisa melihat senyum bangga untuk pertama kali di wajah ayahnya atau bahkan untuk sekedar sebuah pengakuan. Harsa menjadi orang pertama yang ia beri tahu kabar ini. Selalu seperti itu, karena Harsa berharga bagi Kelana.

“Kamu hebat Kelana, semoga kali ini keberuntungan berpihak padamu ya,” ucap Harsa dengan senyum manisnya.

Hari-hari berlalu begitu saja. Kelana mulai sibuk dengan persiapan olimpiade matematika, namun ditengah kesibukan yang membuatnya lelah, Harsa selalu ada.

Meskipun akhir-akhir ini hubungan mereka sedikit renggang, antara Kelana tenggelam dalam kesibukan, dan Harsa yang terabaikan. Namun Harsa tak pernah menuntut apapun, meskipun komunikasi tak berjalan dengan baik.

Baca Juga  Bersorai Lestari

Hari ini Harsa berniat memberikan bekal untuk Kelana yang sekarang mungkin tengah berkelut dengan tumpukan buku di perpustakaan sampai melupakan makan siangnya. Di bukanya pintu perpustakaan, senyum terpancar di wajahnya ketika mendapati Kelana yang sibuk mengerjakan soal-soal itu. Segera ia menghampirinya.

“Hai Na,” sapa Harsa. Namun tidak digubris oleh Kelana yang masih sibuk dengan dunianya, “Kelana, aku bawain bekal nih untuk kamu,” lanjut Harsa. Namun balasan Kelana tidak sesuai dengan harapan Harsa.

“Kamu bisa diem dulu ga sih! Kamu ga lihat aku lagi ngerjain soal? Gara-gara kamu aku ga bisa konsentrasi.” ujar Kelana ketus.

Sedikit terkejut dengan ucapan Kelana, Harsa berusaha tersenyum, “mungkin Kelana lagi capek,” pikirnya. Segera ia duduk di bangku kosong di samping Kelana.

“Maaf ya kalau aku ganggu kamu, aku ke sini cuman mau beri ini,” ucap Harsa dengan lembut sembari menyodorkan bekal yang ia bawa.

“Kamu ga usah ngerepotin diri kamu untuk buatin bekal atau nyamperin aku, aku ga butuh, aku lagi mau sendiri,” kata Kelana tanpa menoleh ke Harsa. Kelana tahu kata-kata yang barusan ia lontarkan akan menjadi awal bagi kahancuran hubungan mereka.

Mendengar itu Harsa tak bekutik, bibirnya kelu, berusaha berpikir bahwa Kelana benar-benar sedang butuh waktu untuk sendiri. Namun tak bisa ia pungkiri bahwa hatinya sedikit terluka oleh perkataan kekasihnya barusan.

Baca Juga  Padamu si Manusia Menawan

Sedikit memaksakan senyum kecil di bibirnya, ia kemudian pergi tanpa kata. Berusaha mengubur dalam-dalam kerinduan yang sempat ia bawa, menyisahkan harap yang berubah menjadi kekecewaan.

Sepasang netra Kelana turut mengiri punggung yang mulai menghilang di balik rak buku. Kemudian beralih kepada bekal yang diberikan Harsa, senyum getir terpatri diwajahnya, “Maaf.”

***

Hasil pengunguman OSN Matematika telah keluar. Namun tak ada setitik niat pun bagi Kelana untuk membukanya. Kini matanya sibuk memandangi Harsa yang sedang bermain futsal dilapangan.

Semenjak hari dimana pertengkaran kecil di perpustakaan, mereka tak lagi bertegur sapa, bahkan Harsa seringkali mengalihkan pandangan saat tak sengaja berpapasaan dengan Kelana.

Masih asik bergelut dengan pikirannya, ternyata Harsa telah selesai bermain futsal. Kelana bergegas mengampiri Harsa dengan sebotol air isotonik di tangannya, berniat memberikannya pada Harsa.

Namun saat akan menyodorkannya, bersamaan dengan itu sebuah tangan juga ikut menyodorkan sebotol air mineral kepada Harsa.

“Eh, Kelana? lama ga keliatan, oh akhir-akhir ini sibuk sama persiapan olimpiade kan,” ucap orang itu. Kelana hanya membalasnya dengan senyuman, karena ia tahu bahwa tersirat nada sindiran dari perkataan orang itu. “Tapi kayaknya Harsa lebih baik minum air mineral aja ga sih Na? soalnya kemarih Harsa sempet drop tuh, jadi sepertinya belum boleh minum  yang manis-manis dulu,” lanjutnya.

Baca Juga  Senjaku Sendiri

Mendengar itu sontak Kelana menoleh pada Harsa. Ia bahkan tidak tahu kabar itu, “Drop?” pertanyaan itu sontak keluar dari bibir Kelana. Namun Harsa bahkan terlihat tak berniat menjawabnya.

“Lah iya, jangan bilang kamu bahkan ga tau kalau Harsa sempet masuk rumah sakit?” tanya teman Harsa heran. Mendengar itu sontak Kelana menggeleng. Kelana tertegun, bahkan untuk masalah seperti ini Kelana tidak di kabari? Ditatapnya Harsa, meminta penjelasan.

“Aku mau ke kelas,” ucap Harsa tak berniat menjelaskan apapun. Kemudian berbalik pergi tanpa mengambil sebotol pun air yang disodorkan untuknya. Meninggalkan Kelana dengan banyak pertanyaan serta sebotol air yang digenggam erat.

“Har…” panggil Kelana sembari mencoba meraih lengan kekasihnya.

“Aku capek Na,” jawab Harsa sambil menepis pelan genggaman Kelana. Kemudian berlalu pergi.

Masih sibuk bergelut dengan pikirannya, Kelana dikejutkan dengan seseorang yang memanggilnya.

“Kak, di panggil bu Isa ke kantor.”

Dan kini disinilah Kelana berada. Di depannya terdapat wanita paruh baya dengan paras anggun tersenyum simpul, senyuman yang sangat mirip dengan Harsa. Ya, ibu guru dengan papan nama bertulis Isa Gayatri adalah ibu dari Harsa.

“Gimana? Kamu sudah lihat pengungumannya?” tanya Isa pada Kelana yang dibalas dengan gelengan.