Nasib Pilu Gaza, Bebaskan Segera
Nasib Pilu Gaza, Bebaskan Segera
Oleh: Nurul Aryani — Aktivis Dakwah Islam Bangka Belitung
Perang yang tidak imbang antara Gaza dan entitas zionis rasanya sudah sangat menyesakkan. Di sana darah tertumpah, di sini air mata kita. Betapa tidak, kebiadaban zionis tidak lagi mampu diukur. Sudah sangat keterlaluan.
Mereka membantai siapa saja bahkan yang dilarang dibunuh dalam perang. Perempuan, anak-anak, lansia, tenaga medis hingga jurnalis semua dibabat habis.
Pasukan Israel membunuh lima jurnalis Al Jazeera melalui aksi biadab di Jalur Gaza pada Minggu (10/8) waktu setempat. Israel mengakui sengaja menargetkan pembunuhan satu jurnalis Anas Al Sharif yang lantang memberitakan Gaza kepada dunia.
Pembunuhan terhadap jurnalis merupakan yang ke sekian kalinya terjadi sejak 22 bulan terakhir yang dilakukan oleh pasukan Israel. Total sebanyak 200 pekerja media telah digenosida Israel dalam agresi mereka di Jalur Gaza. (CNN Indonesia, 12/08/25)
Committee to Protect Journalists (CPJ), mencatat konflik di Gaza adalah yang paling mematikan bagi jurnalis. CPJ menyatakan bahwa selama dua tahun terakhir, angka kematian jurnalis di Gaza melebihi total kematian jurnalis yang tercatat secara global dalam tiga tahun sebelumnya.
Sejak perang dimulai, Israel telah melarang jurnalis internasional untuk masuk ke Jalur Gaza secara mandiri. Media internasional sangat bergantung pada jurnalis lokal untuk sebagian besar liputan mereka di sana. (BBC News Indonesia, 26/08/25)
Di sisi lain, satu juta perempuan dan anak perempuan menghadapi kelaparan massal, kekerasan, dan pelecehan di Gaza. Selain itu blokade total oleh Israel telah menambah derita rakyat Gaza.
Kantor Hak Asasi Manusia PBB menyatakan bahwa antara 27 Mei hingga 13 Agustus, setidaknya 1.760 warga Palestina dilaporkan tewas saat mencari bantuan di Gaza.
Dari jumlah tersebut, 994 orang tewas di sekitar lokasi-lokasi militerisasi non-PBB, dan 766 lainnya tewas di sepanjang rute konvoi bantuan. (Antara News, 17/08/25). Semua ini menunjukkan Israel memang telah menargetkan seluruh warga Gaza dengan menciptakan situasi dan kondisi yang diluar batas kekejaman.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sendiri telah terang-terangan menyampaikan kepada penduduk Kota Gaza pada Senin (8/9) untuk segera mengungsi sebab serangan mematikan militer ke pusat kota terbesar di Palestina itu bakal meningkat.(CNN Indonesia, 09/09/25). Keinginan Benjamin nampak jelas, yakni: membumihanguskan Gaza.
Bentuk Frustasi Zionis
Pembunuhan jurnalis di Gaza hakikatnya adalah untuk membungkam media agar tidak menyiarkan kejahatan genosida dan kebengisan yang telah zionis lakukan. Dengan banyaknya fakta di lapangan yang mengungkapkan kekejaman zionis, zionis telah mendapat banyak kecaman dunia internasional.
Hal ini memicu ketakutan pada tubuh musuh Allah ini. Segala propaganda mereka di media luluh lantah. Berbagai dalih yang Israel sampaikan semuanya seperti kertas yang diinjak, remuk redam dan tidak ada yang percaya. Kefrustasian zionis yang tidak kunjung mendulang kemenangan membuat mereka membidikkan senjata kepada setiap elemen masyarakat jalur Gaza.
Hal yang harus kita fahami, pembunuhan jurnalis bukan sekedar menghilangkan nyawa manusia tapi juga upaya membunuh nyawa perjuangan rakyat Gaza sehingga kejahatan yang zionis Israel lakukan sunyi senyap dari pemberitaan. Aksi kejam mereka tidak ada yang tahu. Lalu mereka bebas membuat drama dan sandiwara. Namun, siapa yang percaya kepada Israel kecuali orang yang buta mata hatinya?.
Sikap brutal Israel ini sejatinya menekankan watak asli mereka. Bahwa mereka tidak peduli dengan hukum apapun. Tidak pada hukum internasional atau janji-janji gencatan senjata. Wajar saja, sejarah berulang. Zionis berakar dari nenek moyang yang suka ingkar janji.
Maka, rasanya sudah cukup. Kaum muslimin harus menyudahi harapan negosiasi dan perjanjian atau bergantung pada hukum apapun. Sebab genosida ini sudah berlangsung sangat lama dan telah banyak perjanjian serta negosiasi telah dilanggar oleh bangsa kera zionis.
Perilaku agresif zionis juga menggambarkan ketidakmampuan mereka mengalahkan perjuangan rakyat Palestina. Ketahanan dan keteguhan kaum muslimin Palestina justru membuat dunia kagum. Mereka bertahan bahkan pada situasi yang kita tangisi dengan menyesakkan.
