Karya: Khoiriah Apriza, Siswi SMAN 1 Airgegas Kabupaten Bangka Selatan

 

Nur adalah seorang gadis yatim-piatu yang tinggal bersama adiknya yang masih menginjak kelas tiga SMP. Di usia 21 tahun, Nur bekerja menjadi pemulung untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan adiknya. Walaupun penghasilan yang didapatnya sedikit, Nur selalu bersyukur. Setidaknya Allah masih memberikannya badan yang sehat, sehingga ia masih mampu untuk bekerja walaupun sekedar menjadi pemulung.

Andaikan dulu ibunya punya uang untuk membayar SPP-nya, tentu Nur hari ini sudah punya pekerjaan. Pendidikan terakhirnya hanya SMP, itupun hanya kelas dua. Jadi, untuk melamar pekerjaan di jaman sekarang ia tidak memenuhi persyaratan.

Nur hanya bisa berharap dari sampah-sampah yang selama ini ia pungut dari tempat sampah. Tak apa, asalkan halal. Setidaknya Nur masih berusaha bekerja, tidak seperti di luar sana yang malah menjadi pengemis. Ada juga yang masih sehat, tetapi memilih menjadi pengemis, Hanya modal baju yang compang-camping. Bahkan ada juga yang sampai menjual diri karena untuk memenuhi kebutuhan ekonominya. Nauzubillah.

Baca Juga  Bangka Berseri

Walaupun Nur membutuhkan uang, tidak pernah terbesit dalam pikirannya untuk menjual diri. Ia masih waras untuk tidak melakukan pekerjaan kotor tersebut. Di sini letak bersyukurnya seorang Nur Azizah. Karena kehidupannya yang sederhana, membuatnya bisa mendekatkan diri kepada Allah ,Sang Pencipta.

“Mbak Nur, tadi di sekolah aku dipanggil Bu Guru. Katanya, harus segera membayar uang SPP. Kalau enggak, aku enggak boleh ikut ujian,” ujar Salsa, adik Nur di malam hari setelah sholat Maghrib.

“Untuk saat ini, Mbak belum punya uangnya, Dek,” jawab Nur sambil meniup api di tungku agar menyala. Namun, malah asap saja yang keluar.

Malam ini, Nur memasak tumis daun singkong dengan bumbu seadanya. Bu Desi tetangga samping rumah, mengizinkan Nur untuk mengambil daun singkong miliknya. Ia juga memberikan beberapa singkong untuk digoreng. Namun, karena tidak punya minyak goreng, Nur hanya bisa merebusnya.

Baca Juga  Hijab untuk Nun

“Aku enggak mau tau! Aku bisa enggak lulus sekolah kalau enggak ikut ujian Mbak! Aku diejek di sekolah karena udah empat bulan enggak bayar SPP, Mbak!” ujar Salsa dengan kesal. Bahkan, ia menghentakkan kakinya di tanah.

“Kalau ada uangnya pasti Mbak bayar, Dek. Lagian, beberapa hari ini lagi ada razia. Mbak belum bisa mulung kayak biasanya.” Nur memberikan singkong rebus kepada adiknya.

“Aku capek, Mbak, jadi orang miskin terus. Pengen kayak Khanaya. Mau apa aja pasti di turuti. Salsa pengen makan pizza, spaghetti, ayam goreng, daging sapi. Bukan singkong rebus gini!” Salsa melempar singkong tersebut ke tanah.

“Salsaaa!” bentak Nur, ia berdiri dari duduknya dan menatap adiknya dengan garang.

Baca Juga  Air Mata di Ujung Malam Seribu Bulan

“Siapa yang mengajarkan kamu jadi enggak bersyukur gini? Siapa yang mengajarkan kamu suka buang makanan? Jawab!” Nur memegang pundak Salsa dengan erat.

“Aku capek jadi orang miskin, Mbak!” ujar Salsa sambil menunduk takut memandang wajah kakaknya.

“Enggak ada orang miskin di dunia ini, Salsa,” ujar Nur, Ia membawa adiknya untuk duduk di balok kayu yang biasa ia duduki sebagai pengganti kursi.

“Coba jawab pertanyaan Mbak, Allah menciptakan orang tertawa dan ….?” Nur mengajukan pertanyaan, kemudian langsung dijawab Salsa dengan sedikit keraguan.

“Menangis?”

“Allah dapat mematikan dan ….?”

“Menghidupkan?”

“Allah menciptakan laki-laki dan ….?”

“Perempuan?”

“Allah memberikan kekayaan dan ….?”

“Kemiskinan?”