“Semua Jawaban kamu benar kecuali nomor empat,” ujar Nur sambil tersenyum menatap wajah adiknya yang kebingungan.

“Kenapa gitu, Kak? Aku rasa jawabanku udah bener, kok,” ujar Salsa. Kedua tangannya ia dekat kan dengan api. Kemudian ia gosok dengan pelan agar bisa menghangatkan tubuhnya.

” … dan sesungguhnya Dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis,” (QS. An-Najm 53: Ayat 43).

” … dan sesungguhnya Dialah yang mematikan dan menghidupkan,” (QS. An-Najm 53: Ayat 44).

” … dan sesungguhnya Dialah yang menciptakan pasangan laki-laki dan perempuan,” (QS. An-Najm 53: Ayat 45)

Nur membaca Surah An-Najm beserta artinya sambil tersenyum memandangi wajah adiknya.

“Adek penasaran, kan sama jawabannya nomor empat? Biar Kakak bacakan, dan sesungguhnya Dialah yang memberikan kekayaan dan kecukupan,” (QS. An-Najm 53: Ayat 48).

“Dalam Qur’an Surah An-Najm ayat 48 sudah dijelaskan, bahwa Allah memberi kekayaan dan kecukupan. Bukan kemiskinan, Dek. Kita ini bukan diberikan kemiskinan, tetapi diberikan kecukupan. Buktinya, Allah memberikan kita rumah, Walaupun tidak besar setidaknya masih bisa untuk meneduh dari hujan dan panas. Di luar sana, Masih banyak orang yang tidak punya rumah. Bahkan ada yang tinggal di kolong jembatan yang ditutup dengan kardus. Kita masih bisa makan … walaupun sering pakai singkong rebus. Di luar sana, banyak yang kelaparan karena tidak memiliki makanan untuk mengganjal perut mereka. Bahkan, ada yang makan dari sisa orang yang dibuang di tempat sampah. Kita masih diberikan kesehatan. Di luar sana banyak orang yang menderita karena sakit. Kita patut bersyukur atas semua pemberian Allah, baik pemberiannya dari yang terkecil maupun yang besar. Entah itu berupa nikmat ataupun cobaan,” jelas Nur panjang lebar. Ia mengangkat wajan yang berisi tumis daun singkong yang sudah matang. Ia letakkan di atas mangkok.

Baca Juga  Pantun Minggu: Nonton Pawai

“Ternyata Allah sebaik itu ya, Kak sama kita. Aku udah jahat sama Allah, udah berburuk sangka sama Allah. Aku pikir, Allah enggak sayang kita. Ternyata pemberian Allah itu banyak banget. Aku aja yang jarang bersyukur,” ujar salsa, Kedua matanya nampak memerah menahan tangisan.

“Allah, terima kasih karena udah sayang sama Salsa dan Mbak Nur,” ujar Salsa dalam hatinya.

“Besok bilang ke Bu Guru, kalau Mbak belum punya uangnya. Insya Allah, secepatnya Mbak akan membayarnya. Adek sabar dulu, ya,” ujar Nur.

“Sekarang kita makan dulu,” lanjutnya.

Salsa mengikuti kakaknya untuk memasuki rumah yang sederhana peninggalan ibu dan ayahnya. Dengan beralas tikar yang sudah lusuh, Nur meletakkan mangkok berisi lauk tumis daun singkong dan nasi. Salsa juga membawa teko berisi air putih dan meletakkan di samping piring.

Baca Juga  Tangkap Aku dengan Kebusukanmu

“Mbak enggak mau Adek buang makanan kayak tadi. Walaupun cuma singkong, tapi itu tetap rezeki dari Allah.” Nur meletakkan piring yang berisi 3 buah singkong yang sudah direbus.

“Maaf ya Mbak, aku janji enggak akan gitu lagi,” ujar Salsa. Ia duduk di dekat Nur. Kemudian mereka berdua makan dengan lauk seadanya. Setelah beberapa menit akhirnya mereka berdua telah selesai makan. Salsa membereskan makanannya, sedangkan Nur langsung mencuci piring.

Setelah selesai beres-beres, Nur mengajak Salsa untuk duduk di ruang yang sebelumnya digunakan untuk makan. Sambil menunggu waktu Isya, Nur membantu Salsa untuk mengerjakan tugas sekolahnya.

“Mbak, kira-kira Salsa bisa enggak ya, jadi dokter?” tanya Salsa sambil memandang wajah Kakaknya.

Baca Juga  Ombak yang Tak Bersalah

“Bisa, kalau Adek berusaha dan terus berdoa,” ujar Nur sambil mengelus pelan rambut panjang Salsa.

“Aku janji akan berusaha belajar yang rajin biar jadi dokter,” ujar Salsa dengan semangat.

“Aamiin. Kalau nanti jadi dokter, jangan sombong ya. Harus tetap ingat dari mana dulu kita berasal. Jangan jadi kacang yang lupa sama kulitnya,” nasihat Nur kepada adiknya.

“Sini, peluk Mbak,” ajak Nur dibalas anggukan oleh Salsa.

Malam itu, di bawah rumah yang berdinding papan, disinari dengan penerangan lampu seadanya, Nur memeluk adiknya erat. Tanpa sadar, pipi nya kini telah basah karena air matanya. Nur berjanji, ia akan berusaha untuk membahagiakan adiknya sesuai janjinya dengan ibu dan ayahnya yang kini telah kembali kepada Sang Kuasa.

TAMAT