Oleh: Agustian Deny Ardiansyah — Pengajar di SMPN 2 Tukak Sadai, Bangka Selatan

Setiap pagi emak tak pernah absen membuat bekal untuk anak-anaknya yang masih sekolah. Pagi-pagi ketika bapak bangun untuk menunaikan salat subuh, emak juga ikut bangun.

Bedanya setelah salat bapak menyiapkan seragam untuk bekerja, emak sibuk memasak untuk membuat bekal dan menyiapkan sarapan.

Lauknya bermacam-macam setiap hari, tergantung ada bahan apa di rumah saat itu. Menu spesial selalu dibuat setelah bapak gajian, biasanya diisi dengan ayam goreng, telur, tempe, nasi putih dan susu.

Namun jika tidak ada lauk di rumah, emak pasti membuat nasi goreng atau kadang-kadang hanya mi goreng, ikan asin, tempe, tahu, sayur kangkung atau bayam ditambah nasi dan air putih untuk bekal sekolah.

Kendati begitu, bekal yang dimasak emak selalu habis dan tak tersisa, setiap istirahat jam pertama bekal itu selalu menjadi teman pelepas lapar. Kadang di dalam kelas, kadang di bawah pohon dekat mushola saat melahap bekal emak.

Baca Juga  SMPN 2 Tukak Sadai Menyemai Kembali Bibit-Bibit Bernas Literasi

Bahkan ketika pulang dan telah sampai di rumah, emak tak henti-hentinya mengingatkan untuk meletakan tempat bekal di tempat cucian piring agar tas tidak menjadi bau karena tempat bekal tersebut.

Entah bergizi atau tidak bergizi tapi selama makan bekal gratis (MBG) Emak tidak pernah rasanya badan menjadi sakit atau mual-mual. Sebaliknya rasa lapar yang tadinya menyala-nyala langsung padam.

Itulah kekuatan Makan Bekal Gratis (MBG) Emak yang membuat lapar jadi hilang dan siap melanjutkan pelajaran setelah istirahat hingga pulang.

Sekarang peran emak membuat bekal sekolah telah di ambil alih oleh program pemerintah dan berganti nama dari Makan Bekal Gratis (MBG) Emak jadi Makan Bergizi Gratis (MBG).

Bedanya jika Makan Bekal Gratis (MBG) Emak dibuat dan diracik oleh emak sesuai kondisi keuangan keluarga dengan ditambah rasa kasih dan cinta, maka Makan Bergizi Gratis (MBG) dibuat di dapur-dapur MBG dengan takaran gizi seimbang serta melalui pemeriksaan yang ketat.

Baca Juga  Perpustakaan Hebat

Kendati begitu selama selemparan batu Makan Bergizi Gratis (MBG) dilaksanakan telah terjadi beberapa kasus terkait kualitas makanan yang disajikan.

Menurut laporan Kompas.com yang terbit pada 24/09/2025 dengan judul Di mana Saja 4.711 Kasus Keracunan MBG Terjadi? Lengkapnya, memaparkan bahwa sejak Januari hingga 22 September 2025 telah terjadi 4.711 kasus keracunan MBG baik di wilayah I, II, dan III.

Masih dalam laporan kompas.com, kasus-kasus terkait MBG tersebut terjadi karena Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang masih baru, belum terbiasa memasak dalam porsi besar, hingga mengganti supplier bahan baku.

Atas kejadian tersebut melalui Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mewakili pemerintah dan Badan Gizi Nasional menyampaikan permohonan maaf atas masih terjadinya keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) di banyak daerah karena hal tersebut tidak pernah diinginkan pemerintah.

Kejadian demi kejadian yang terjadi terkait Makan Bergizi Gratis (MBG) membuat program pemerintah tersebut disorot. Salah satunya adalah laporan dari detikjogja yang terbit pada 26/09/2025 dengan judul Emak-Emak di Jogja Demo Minta MBG Disetop Buntut Keracunan Massal.

Baca Juga  Dear Para Pembuang Sampah ke Sungai, Sadarlah!

Masih berdasarkan laporan detikjogja Emak-Emak tersebut demo dengan membawa alat dapur seperti panci yang dipukul serentak sebagai bentuk protes dan melayangkan 5 tuntutan.

Kendati begitu menurut hemat saya, program Makan Bergizi Gratis (MBG) adalah program yang sangat baik terutama untuk memberi pemenuhan gizi bagi balita, anak-anak, ibu hamil dan ibu menyusui.

Oleh karena itu program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak perlu disetop atau dihentikan namun perlu dievaluasi dalam pelaksanaanya utamanya pada sasaran siswa di sekolah karena kasus-kasus keracunan paling banyak ditemukan di tingkat sekolah.

Evaluasi tersebut menurut hemat saya adalah mengembalikan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari yang awalnya dikelola oleh Badan Gizi Nasional melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dikembalikan pada para emak di rumah.

Lalu bagaimana mekanismenya?