Karya: Faturrachman

Siang itu Dini termenung di kamarnya. Duduk, berdiri, dan berjalan pelan mengelilingi ruangan berdinding kayu itu. Menatap nanar, merenungi ocehan ibunya kemarin.

“Kau sudah tamat sekolah, tapi masih saja menganggur. Daripada mengurung diri di kamar dan menghabiskan beras di rumah, lebih baik kau cari kerja! Sekalian kawin biar ada yang menafkahimu.”

Mencari pekerjaan di Desa Baking sangatlah sulit. Tidak ada toko yang mau menerima calon pegawai dengan ijazah SMP. Menggarap lahan sawah atau kebun sawit orang lain seperti almarhum ayahnya pun terlalu berat bagi Dini yang berpostur kecil.

Melamar kerja ke pabrik hanyalah khayalan, karena pabrik terdekat ada di pulau seberang. Pilihan merantau bagi Dini sama dengan tiket sekali jalan. Tidak ada ongkos pulang dan tidak tahu bisa meminta bantuan siapa di sana.

Baca Juga  Raga Itu Bukan untukmu

Menikah? Saran itu terlalu berat untuk diwujudkan. Dini baru lulus SMP 6 bulan lalu. Tak terbayang rasanya hamil padahal baru 12 kali haid. Memakai pembalut pun masih canggung, apalagi mengandung janin selama 9 bulan.

Sementara Bujang, pacarnya yang lebih tua 5 tahun, tidak dapat diharapkan apa-apa. Lelaki itu hanya menghabiskan waktu dengan memancing ikan di sungai, mendengarkan koleksi lagu dangdut dari gawai Nokia, dan sesekali mabuk arak bersama teman tongkrongannya. Ia terlalu kekanak-kanakan untuk menjadi seorang ayah. Satu-satunya hal yang membuat Dini masih bertahan hanya selera musiknya yang unik.

Saking resahnya memikirkan nasib diri, Dini pun mendatangi lokasi mancing favorit Bujang di sungai pinggir desa. Ternyata Ia masih duduk jongkok di situ, entah sejak kapan.

Baca Juga  Rika dan Kue Ulang Tahun

“Kukira ka dimakan buaya,” kata Dini sambil tersenyum.

“Heh, mulut!” balas Bujang yang was-was dengan keberadaan reptil predator itu. Dini pun tertawa melihat wajah panik Bujang.

“Oh ya, Din. Ka tahu Jhonny Iskandar, dak?”

“Mana Kutahu?! Dia tetanggamu atau pamanmu?”

“Bukaaan, itu artis dangdut. Ku nge-fans sama orangnya. Gagang kacamatanya digantungin rantai dan bajunya nyentrik bener. Lirik lagu-lagunya juga lucu. Coba dengerin nih!”

Tak lama setelah ditekan, Nokia Bujang pun mengalunkan lagu yang baru pertama kali Dini dengarkan.

Neng, ayo neng

Ayo main pacar pacaran…

Neng, ayo neng

Ayo main pacar pacaran…

Dari pada pacar beneran