Untuk dr Rosa
Oleh: Hening Cahaya
Ros.
Ketikan di WhatsApp itu, hurufnya tidak tersusun.
Naik turun seperti tidak rukun.
Lari ke sana kemari menebar kekesalan.
Terpatri kuat mengikat sampai berkarat.
Pada titik puncaknya perasaan, mengganjal kuat.
Jantung pun berdetak Senin Kamis, nyaris koma.
Terkapar di antara tumpukan kasur rumah sakit.
Yang tiga bulan belum diganti sepreinya.
Begitu pusing dokter spesialis penyakit dalam.
Menganalisa rasa sakit pada mata hati, denyut nadi kerinduan.
Yang terinfeksi getaran dua burung merpati bercengkerama.
Menutup luka yang semakin menganga.
Tidak ada obat penyembuh ampuh.
Meski pesan ramuan jamu, lewat online dari negara Cina.
Atau pesan paket oplosan pecahan nuklir dari sisa sisa perang Iran vs Israel.
Rasa sakit semakin menebar. Pada napas-napas perseteruan tak berujung.
Mengerang terbang di antara ranting ranting gang desa Merawang.
Tenggelam pada kolong belakang rumahmu.
Pada air kolong mengombakan, igauan tidurmu.
Yang tidak berhenti menyebut, kekecewaan dan sumpah serapah kebencianmu.
