Oleh: Yan Megawandi — Ketua Tradisi Lisan dan Pemerhati Budaya Bangka Belitung

Sahabatku Prof. Udin dan Cece Desi,

Sudah seminggu kalian dilantik oleh pak Gubernur, tapi saya yakin seminggu itu terasa seperti setahun. Bukan karena waktu berjalan lambat, tapi karena adanya beban harapan yang begitu berat dan tumpukan pekerjaan yang seolah tak pernah akan selesai. Kota ini, Pangkalpinang yang kita cintai, kini sepenuhnya menjadi tanggung jawab kalian berdua.

Saya menulis surat ini bukan untuk menasihati, apalagi menggurui. Ini hanyalah catatan hangat dari seorang kawan lama yang telah menyaksikan liku-liku kota ini bertumbuh, berubah, dan kadang terluka oleh kecepatan zaman.

Anggap sajalah surat ini sebagai percakapan ringan di sore hari, ketika matahari pelan-pelan tenggelam di balik Jembatan Emas, dan kita duduk menyesap kopi di warung kopi di Kampung Katak sambil memandang kota yang sama-sama kita sayangi ini.

Tentang Kota yang Tumbuh tapi Tersengal

Pangkalpinang, adalah kota yang tak terlalu besar sebanarnya. Namun boleh jadi ia justru besar di hati kita, yang lahir dan tumbuh bersama di bawah hari-harinya yang teduh seperti dedaunan rindang pohon asam sepanjang jalan kota.

Kota ini belakangan serasa ingin berlari menjadi seperti kota metropolitan, yang besar, gemerlap dan riuh oleh keramaian. Namun sayangnya kota kita masih sering tersandung oleh persoalan yang sama dari tahun ke tahun. Jalan-jalan utama kita makin ramai, tetapi di banyak sudut pinggiran, aspal masih berlubang dan penerangan jalan belum merata.

Baca Juga  Nurtanio dan Habibie: Api Semangat Kebangkitan Teknologi Indonesia

Ketika hujan turun agak lama terkadang ada kekhawatiran yang muncul. Air mulai menggenang. Dan bila hujan berlanjut maka banjir pun akan menjelma. Apa lagi bila waktunya bersamaan dengan pasang air laut. Pengalaman dilanda banjir tentu akan terus menghantui benak kita.

Bayangan bagaimana kota menjadi lautan air di sekitar tahun 1986 dan berulang di tiga dekade kemudian, di 2016 adalah mimpi buruk warga Pangkalpinang. Jalan raya dilintasi perahu. Ekonomi macet dan semua orang bingung. Kontur dan situasi geografis kota memang kurang menguntungkan, tapi kita tentu masih punya pilihan.

Beberapa proyek besar telah pernah dicoba namun hasilnya belum terlalu memuaskan. Perlu pendekatan baru nampaknya. Bukan hanya dari aspek fisik semata tetapi juga dari pendekatan budaya.

Lalu lihatlah bagaimana kondisi transportasi umum kota kita. Sesuatu yang seharusnya menjadi urat nadi kota, kini seperti tubuh yang kehilangan darah. Rute angkutan kota terbatas, armadanya tua, dan integrasi antarmoda nyaris tidak ada.

Di kampung-kampung pinggiran, warga masih menunggu lama di tepi jalan, berharap angkot lewat. Kadang yang datang justru ojek daring, solusi sementara yang lahir dari ketidakberdayaan sistem transportasi kita sendiri.

Kota ini butuh visi baru dalam bergerak. Transportasi bukan hanya urusan kendaraan, tetapi urusan keadilan: siapa yang bisa mengakses kota, dan siapa yang tertinggal di rumah karena tak punya pilihan.

Tentang Sampah yang Menggunung dan Kesadaran yang Masih Tumbuh

Kawan, kita tahu betul bahwa persoalan sampah selalu jadi momok setiap kali hujan turun dan selokan tersumbat. Setiap hari Pangkalpinang menghasilkan antara 150 hingga 200 ton sampah, tapi TPA hanya 2,5 hektar luasnya dan sudah mulai penuh.

Baca Juga  Pertumbuhan Bergerak Lambat, Babel Butuh Diversifikasi Ekonomi yang Kuat

Tumpukan plastik, limbah rumah tangga, dan sisa pasar kini menjadi pemandangan yang akrab di mata, tapi asing di hati. Aroma sampah yang terletak tak jauh dari bandara Depati Amir dan komplek perkantoran gubernur adalah sinyal kuat bahwa masalah ini mesti dapat penanganan yang lebih.

Masalahnya bukan hanya teknis, tapi juga kultural. Kesadaran warga masih rendah; membuang sampah sembarangan masih dianggap hal kecil. Tapi bukankah dari hal kecil itu lahir banjir besar? Bukankah dari kebiasaan yang salah itulah muncul wajah kota yang kusut dan muram?

Namun, saya percaya: setiap masalah selalu menyimpan potensi. Bayangkan bila kota ini bisa mengubah sampah menjadi energi, seperti kota-kota hijau di dunia. Atau mungkin sepperti apa yang diperlihatkan oleh Banyumas.

Sampah di Banyumas dikelola dengan sistem yang terintegrasi dari hulu hingga hilir melalui program “Sumpah Beruang” (Sulap Sampah Berubah Jadi Uang). Sampah dipilah oleh masyarakat, diolah di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) menjadi produk bernilai ekonomi seperti pupuk, RDF (Refuse Derived Fuel), dan paving block, serta dimanfaatkan maggot.

Bahkan, Banyumas tidak lagi memiliki TPA dan berhasil mengolah hampir seluruh sampahnya. Bayangkan jika setiap sekolah memiliki program eco-education yang mengajarkan anak-anak untuk memilah sampah sejak dini. Sejak awal di rumah masing-masing. Ketika itu terjadi, maka Pangkalpinang bukan hanya bersih di jalanan, tapi juga bersih dalam pikirannya.

Baca Juga  Prof Udin-Cece Dessy Resmi Dilantik sebagai Wali Kota dan Wawako Pangkalpinang

Tentang Air, yang Semakin Mahal karena Semakin Langka

Salah satu paradoks kota kita ini adalah kita dikelilingi air. Ada laut di utara, sungai di tengah, tapi masih banyak warga yang kesulitan mendapatkan air bersih. Data terakhir menunjukkan 93,95% rumah tangga memiliki akses terhadap air minum layak, tapi itu angka di atas kertas. Di lapangan, masih banyak yang mengeluh air keruh, aliran sering mati, dan pipa-pipa tua yang bocor di sana-sini.

Di musim kemarau, warga harus membeli air galon tambahan, sementara di musim hujan, air hujan yang bisa dimanfaatkan justru dibiarkan mengalir sia-sia.

Belum lagi bagaimana manajeman air bersih kota yang tak memperlihatkan akuntabilitasnya dalam bekerja. Kasus penyalahgunaan yang terjadi selama ini sehingga berujung ke pengadilan menjadikan rakyat kurang percaya. Walaupun memang ada persoalan sumber air baku yang dihadapi oleh kota.

Pemerintah perlu menata ulang kebijakan air bersih bukan sekadar dari sisi distribusi, tapi juga dari budaya. Bayangkan jika kita bisa memanfaatkan teknologi sederhana untuk memanen air hujan di rumah-rumah, sekolah, dan kantor pemerintahan. Sebab air bukan hanya urusan pipa dan pompa, tetapi tentang cara kita menghargai kehidupan itu sendiri.

Tentang Birokrasi dan Semangat Melayani yang Mulai Lesu

Prof, Cece,

Kita tahu bahwa inti pemerintahan bukan pada bangunan megah atau proyek besar, tapi pada sikap melayani. Sebuah sikap yang dinanti dan diharapkan oleh warga dimanapun mereka berada.