Langit Menyambutnya, Dunia Belajar darinya (Bagian 20)

Oleh: Muhammad Bachtiyar — Pengajar di Pondok Pesantren Qur’an CAHAYA

Pada usia 35 tahun, lima tahun sebelum menerima wahyu, Muhammad Saw telah tampil sebagai sosok muda yang dikenal dengan gelar al-Amin -yang terpercaya- oleh penduduk Makkah. Gelar itu bukan hanya tentang kejujuran dalam berdagang, tapi juga mencerminkan kematangan emosi, kemampuan menyelesaikan konflik, dan kepekaan sosial dalam berbagai persoalan masyarakat.

Salah satu momen paling menonjol adalah ketika suku-suku Quraisy bersama-sama merenovasi Ka’bah akibat banjir besar yang merusak sebagian bangunannya. Ketika pembangunan hampir selesai dan batu Hajar Aswad hendak dikembalikan ke tempatnya, muncullah sengketa besar. Setiap suku ingin mendapatkan kehormatan untuk meletakkan batu suci itu. Ketegangan meningkat hingga hampir terjadi pertumpahan darah antar suku yang bersaudara.

Baca Juga  Belajar dari Kisah Nabi Yusuf (Bagian 15): Godaan dan Keteguhan Iman

Dalam riwayat disebutkan bahwa selama empat hingga lima hari, pertikaian itu belum terselesaikan, hingga akhirnya mereka sepakat: siapa pun yang pertama kali masuk ke dalam area Masjidil Haram keesokan paginya, dialah yang akan menjadi penengah. Ternyata, yang pertama kali masuk adalah Muhammad Saw. Begitu melihatnya, mereka serempak berkata, “Ini al-Amin! Kami ridha kepadanya.” (Sirah Ibnu Hisyam, Juz 1)

Muhammad Saw pun tidak langsung mengambil keputusan sepihak. Ia menunjukkan kepemimpinan yang inklusif dan menjunjung tinggi kolaborasi. Beliau membentangkan kain, meletakkan Hajar Aswad di tengahnya, dan meminta perwakilan dari setiap suku untuk memegang sisi kain itu bersama-sama.

Setelah sampai di tempat semula, Muhammad Saw sendiri yang mengangkat batu tersebut dan meletakkannya di posisinya. Konflik besar pun terselesaikan dengan tenang dan elegan.

Baca Juga  Rukok Sertung

Tindakan ini menunjukkan kematangan luar biasa dalam menghadapi konflik. Tidak ada ego, tidak ada pihak yang dikalahkan atau direndahkan. Semua merasa terlibat dan dihormati. Beginilah karakter pemimpin masa depan: bukan hanya mampu berpikir cepat, tapi juga bijak dan adil dalam melibatkan semua pihak.