Bajak Laut dan Jambul Nanas
Bajak Laut dan Jambul Nanas
Oleh: Yoel Chaidir
Di sebuah dusun yang terletak di ujung selatan pulau Bangka hidup lah sepasang suami istri yang tinggal di pesisir Pantai Tanjung Timor.
Setiap hari mereka menebar pukat dan memancing ikan menggunakan perahu sampan. Ukurannya kecil yang hanya bisa ditumpangi dua orang itu.
Terkadang saat musim udang rebon tiba pak Ali dan istrinya menyukur udang untuk dijadi kan terasi atau belacan tanpa bahan pengawet tambahan untuk menjaga mutu dak kualitas terasi mereka.Suatu hari saat mereka tengah asyik memancing ikan setelah menebar pukat, nampak dari kejauhan sebuah kapal motor melaju kencang ke arah mereka.
Kapal motor itu hampir saja menabrak perahu sampan mereka. Sepasang suami istri terkejut bukan kepalang.
Mereka kira, kapal itu pelaut yang sengaja mempir untuk mengambil air bersih yang ada di rantau pesisir pantai itu.
Dengan sigap pak Ali memutar haluan perahu menggunakan sebuah dayung untuk menghindar dari laju kapal motor yang terlihat sengaja ingin menabrak sampan mereka.
Seseorang yang berada di depan haluan kapal tertawa lebar melihat apa yang dilakukan pak Ali dan istri nya. Namun pak Ali dan istri nya dengan sinis melihat orang tersebut sambil mengeluarkan kata sumpah serapah.
“Mereka bukanlah orang baik. Mereka pasti perompak yang sengaja ingin menabrak sampan kita,” lontar Pak Ali kepada istrinya.
Belum sempat Pak Ali melanjutkan kata kata kepada istri nya, beberapa orang ABK (anak buah apal) sudah berada di tepi sampan. Tubuh mereka terlihat gempal dan warna kulit hitam serta wajah sangar.
Salah satu dari mereka meminta ikan hasil pancingan pak Ali dan istri yang belum beberapa ekor ikan didapat. Melihat keadaan yang tidak memungkinkan untuk mendapatkan ikan dari perahu Pak Ali, lalu mereka mengaitkan tali jangkar sampan dengan besi.
Hingga dengan leluasa para perompak menarik perahu sampan tersebut hingga ke buritan kapal. Setelah diikatkan ke buritan kapal motor mereka, sampan Pak Ali ditarik ke tengah laut.
Sepasang suami istri memohon agar segera melepaskan tali yang terikat pada kapal motor perompak. Namun permintaan itu tak digubris para perompak.
Mereka hanya membalasa dengan senyuman dan tertawa melihat pak Ali dan istri yang sangat ketakutan. Pak Ali yang melihat istrinya kian ketakutan, ia lalu meramal kan ajian ajian pamungkas yang beliau dapatkan dari ayah.
Ayah Pak Ali adalah kuncen Dusun Tanjung Timor. Kini telah diturunkan kepada pak Ali sebagai kuncen Dusun Pesisir Tanjung Timor.
