Oleh: Ahmad Gusairi

Pulau Bangka dikelilingi laut biru dan dipenuhi hamparan hutan hijau, mengalir tenang ratusan sungai kecil dan rawa-rawa yang menyimpan sejuta rahasia. Di tepi-tepi aliran air itu, tumbuh subur pohon simpur—berdaun lebar dan berbunga kuning cerah—yang menjadi saksi bisu kehidupan manusia dan makhluk halus yang konon hidup berdampingan.

Alam Bangka bukan hanya indah, tapi juga penuh kisah dan legenda. Salah satunya adalah dongeng tentang seorang gadis cantik bernama Dayang Simpur, yang tidak hanya menjadi kembang desa, tapi juga bagian dari dunia gaib penghuni sungai. Cerita ini tumbuh dari tanah yang lembap oleh hujan, dari aliran sungai yang berbisik, dan dari kenangan orang tua yang kehilangan, namun tetap setia menunggu. Inilah kisah dari tepian alam Bangka—dongeng tentang cinta, kehilangan, dan kesetiaan, yang masih diceritakan pelan-pelan saat malam purnama tiba..

Dahulu kala, di sebuah desa yang asri dan damai di tepian Sungai Serampai, hiduplah sepasang suami istri sederhana bernama Mang Serah dan Bik Semah. Mereka adalah petani ulet yang menggantungkan hidup dari huma dan hasil sungai. Setelah bertahun-tahun menanti dan mengalami keguguran berkali-kali, akhirnya mereka dianugerahi seorang putra tampan yang mereka beri nama Bujang Baya.

Bujang Baya adalah anak yang ceria dan disenangi banyak orang. Ia suka bermain di sungai bersama teman-temannya, berenang, melompat dari batu ke batu, dan sesekali menangkap ikan kecil. Sungai Serampai adalah sumber kehidupan desa, sekaligus tempat bermain anak-anak.

Baca Juga  Puisi-puisi Dian Chandra

Namun, suatu hari yang naas datang tanpa disangka. Saat bermain di sungai, Bujang Baya tiba-tiba hilang dari permukaan air. Anak-anak yang bersamanya pulang dengan tangis ketakutan, memberitahu bahwa Bujang Baya tak muncul kembali setelah menyelam.

Panik dan cemas, seluruh warga desa turun mencari. Mang Serah menyusuri aliran sungai berhari-hari, sementara Bik Semah hanya bisa menangis dan berdoa di tepi sungai. Pencarian dilakukan berkali-kali. Bahkan dukun kampung dan pawang buaya pun dipanggil, namun jasad Bujang Baya tak kunjung ditemukan.

Salah satu pawang bernama Atok Garu, yang dikenal mampu berkomunikasi dengan makhluk penunggu sungai, berkata dengan suara berat:

“Anak itu… telah diambil oleh siluman buaya. Ia dijadikan tumbal agar sungai tetap tenang. Sungai murka karena manusia serakah, membuang kotoran sembarangan dan mengambil hasilnya tanpa batas.”

Kabar itu membuat Bik Semah hancur. Ia tak bisa menerima kenyataan bahwa putra satu-satunya kini menjadi tumbal. Setiap pagi, sebelum pergi ke huma, ia duduk di tepi sungai, menatap aliran air yang tenang seolah berharap air itu memuntahkan kembali anaknya. Sepulang dari huma, ia kembali duduk di tempat yang sama, hingga matahari tenggelam.

Mang Serah mencoba tegar. Ia selalu berkata, “Yang Maha Kuasa takkan mengambil tanpa mengganti. Suatu hari, kita akan diberi anak lagi.”

Tahun berganti, namun duka Bik Semah tak kunjung hilang. Suatu malam yang ganjil, di musim kemarau yang tiba-tiba turun gerimis lembut, Bik Semah bermimpi didatangi seorang perempuan muda berpakaian hijau daun, wangi harum bunga sungai. Ia memperkenalkan diri sebagai Dayang Simpur, penjaga sungai.

Baca Juga  10 Pantun Cinta yang Dijamin Buat Pasangan Langsung Baper

“Ibu, Bujang Baya baik-baik saja. Ia bahagia di alam kami. Namun sungai ini butuh penjaga baru… seorang yang lahir dari kasihmu, bukan dari darah. Besok, temuilah bunga Simpur yang tumbuh di batu sungai. Di situlah takdirmu berubah.”

Keesokan harinya, saat duduk di tepi sungai, Bik Semah melihat bunga Simpur yang mekar indah di atas batu besar. Di balik bunga itu, ia menemukan seorang bayi perempuan mungil, terselimuti dedaunan hijau dan harum semerbak.

Bayi itu tak menangis, hanya menatapnya dengan mata bening yang membuat hati Bik Semah bergetar. Ia segera membawanya pulang. Mang Serah menerimanya dengan penuh syukur. Mereka menamai anak itu Dayang Simpur, sesuai pesan dalam mimpi.

Dayang Simpur tumbuh menjadi gadis cantik, lembut dan penuh kasih pada alam. Ia selalu merawat sungai, mengajarkan anak-anak desa untuk tidak mencemarinya, dan menjaga hasilnya agar tidak diambil berlebihan. Di bawah bimbingannya, Sungai Serampai kembali jernih dan bersahabat.

Orang-orang percaya, Dayang Simpur bukan anak biasa. Ia adalah anugerah dari alam, penebus atas ketamakan manusia masa lalu. Dan konon, jika engkau duduk hening di tepi Sungai Serampai saat fajar, kau bisa melihat bayangan seorang anak laki-laki bermain air tak jauh dari gadis yang berdiri memeluk bunga Simpur.

Baca Juga  Senandika: Sembilan Hari Tanpa Engkau, Berteman Lagu Cinta (tamat)

Dayang Simpur tumbuh menjadi seorang gadis yang luar biasa. Wajahnya bersih seputih bunga Simpur yang mekar di pagi hari, rambutnya panjang sehitam malam tanpa bintang, dan tutur katanya menyejukkan seperti embun di pucuk daun. Tak heran bila ia dijuluki Kembang Desa Serampai. Banyak bujang datang dari penjuru kampung bahkan luar desa, mencoba meminangnya. Namun semuanya ditolak halus oleh Dayang Simpur.

“Maaf, aku bukan gadis biasa,” jawabnya lirih setiap kali pinangan datang.

Di lubuk hatinya, Dayang tahu dirinya berbeda. Ia tak sepenuhnya manusia, dan ia merasakan bisikan alam, getar air, serta sapaan angin seperti panggilan dari dunia lain.

Hingga suatu ketika, datanglah seorang pemuda tampan dari desa seberang. Namanya Bujang Rancak. Ia sopan, pandai bersilat, dan berhati lembut. Dayang Simpur, yang selama ini membentengi hatinya, perlahan jatuh cinta. Mereka kerap bertemu di tepi huma, bertukar cerita, tertawa, dan berbagi mimpi. Namun cinta mereka ditentang oleh Bik Semah.

“Tidak bisa, Dayang. Kau bukan gadis biasa. Kau sudah punya jodoh… bukan dari dunia ini. Jika kau melanggar, kutukan akan datang,” ucap Bik Semah dengan mata berkaca-kaca.

Dayang Simpur hanya bisa menangis. Ia tahu, ada kebenaran dalam kata-kata ibu angkatnya. Tapi hatinya yang muda tak bisa memadamkan api asmara.

Suatu malam, Bujang Rancak membisikkan niatnya, “Ayo kita pergi, Dayang. Tinggalkan semua ini. Kita mulai hidup baru di tempat jauh.”