(Memperingati Hari Kesehatan Nasional, 12 November)

Oleh: Gito, S. STP.

Semasa kecil, piring kami adalah medan pendidikan moral.

Ibu berujar lembut,

“Ambek hecukup bae jang, kelak dak abes.” (Ambil secukupnya, Nak. Jangan biarkan tersisa.)

Ayah menimpali dengan pesan penuh makna:

“Setiap sisa nasi di piringmu, di situlah keberkahan yang kau sia-siakan. Jangan sampai pejatik.” Dalam bahasa daerah kami, pejatik berarti mubazir — mengambil berlebihan lalu membuangnya.
Sementara dari para kakak, ada nasihat yang dulu terdengar menakutkan:

Nasik sise kelak dipajo antu!(Kalau ada nasi tersisa, nanti dimakan jin.)

Mitos sederhana itu ternyata menyimpan pesan moral yang utuh: membuang makanan bukan sekadar tidak sopan, tetapi juga bentuk penolakan terhadap rezeki  dan pada akhirnya, melukai bumi.

Baca Juga  Mengenal Pantang Larang (1)

Piring Penuh, Bumi Penuh Metana