Menyeberangi Laut untuk Belajar: Potret Permasalahan Pendidikan di Pulau Rengit Belitung

Oleh: Dwi Oktorina — Mahasiswa Universitas Bangka Belitung

Pendidikan adalah hak asasi setiap individu, yang menggaris bawahi bahwa setiap orang berhak mendapatkan pendidikan. Namun dalam praktiknya hak ini sering kali belum dirasakan secara adil oleh semua masyarakat Indonesia, terutama di daerah kepulauan. Salah satu studi kasus yang bisa diambil adalah Pulau Rengit yang terletak di Desa Pegantungan, Kecamatan Badau, Kabupaten Belitung, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung

Pulau Rengit adalah pulau kecil yang secara administratif berada di bawah Desa Pegantungan Kecamatan Badau. Di pulau ini memiliki kurang lebih 44 KK (Kepala Keluarga) dan 1 RT (Rukun Tetangga). Di pulau ini juga ternyata tidak memiliki fasilitas pendidikan, baik sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas atau pun sekolah menengah kejuruan.

Baca Juga  Tinjau Dapur SPPG Polri di Belitung, Kapolda Sebut Pembangunan Capai 90 Persen

Kondisi geografis yang memisahkan pulau ini dari daratan Pulau Belitung, serta jumlah penduduk yang sedikit menyebabkan pembangunan infrastruktur pendidikan bukan menjadi prioritas utama.

Sebagai hasilnya, semua anak-anak dalam usia sekolah di Pulau Rengit harus melintasi laut setiap hari menggunakan perahu kecil atau kapal motor menuju daratan Pulau Belitung tempat mereka bersekolah yang menjadi harapan pendidikan bagi anak-anak dari pulau itu.

Setiap paginya, perjalanan melintasi laut tersebut menghabiskan waktu kurang lebih 10 menit, tergantung pada cuaca dan arus laut. Transportasi laut disediakan oleh Pemerintah Desa Pegantungan sebagai sarana berupa BOT (kapal motor kecil) agar anak-anak bisa melanjutkan pendidikan mereka.

Setibanya di pelabuhan Pegantungan, untuk melanjutkan perjalanan kesekolah biasanya anak-anak menggunakan sepeda atau sepeda motor (sebelumnya disimpan di rumah penduduk setempat) dan ada juga yang menggunakan bus (angkutan umum swasta), tergantung tujuan sekolah mereka masing-masing.

Baca Juga  Diduga Terjatuh, ABK Kapal Feliana I Hilang di Selat Karimata Belitung

Rute ini diambil setiap hari, dari pagi hingga sore yang menuntut ketahanan fisik serta semangat belajar dari anak-anak tersebut. Namun tidak setiap waktu selalu beruntung, ketika cuaca buruk menyerang, mereka terpaksa harus melewatkan sekolahnya karena bahaya yang mengancam.

Permasalahan ini tidak hanya berakhir di sini, meskipun Desa Pegantungan mempunyai fasilitas pendidikan Sekolah Dasar (SD) namun untuk melanjutkan pendidikan ke Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SLTA) mereka harus bersekolah ke Desa Sungai Samak bahkan ke Kecamatan Tanjungpandan yang jaraknya kurang lebih 35 kilometer dari pelabuhan tempat bot mereka bersandar.

Banyak pelajar yang berangkat sejak subuh dan baru pulang menjelang sore hari dengan pulang pergi menggunakan transportasi pribadi atau ada juga yang memilih tinggal di rumah saudara bahkan ada yang memilih menyewa/mengontrak rumah di Kecamatan Tanjungpandan agar memudahkan meraka untuk bersekolah.

Baca Juga  Pengembangan Pelabuhan Tanjung Gudang Belinyu terhadap Konektivitas Kawasan

Kondisi ini tentunya menambah beban ekonomi bagi keluarga, terutama bagi mereka yang sehari-hari bekerja sebagai nelayan dengan pendapatan yang tidak tetap.